Warga Pagaralam tegajul, berharap malam kuliner tiap Minggu

PAGARALAM ONLINE. Hari Sabtu malam, 3 Februari 2018, kawasan Talang Jawa, yang sepekan sebelumnya dijadikan ajang penyelenggaraan Pagaralam Culinary Night, diramaikan oleh kedatangan ratusan pengunjung. Di sepanjang  tepi jalan raya di Kelurahan Sidorejo, yang sudah terang-benderang itu tampak deretan panjang kendaraan roda empat dan roda dua diparkir.

Tampaknya sebagian masyarakat Pagaralam, yang pekan sebelumnya belum sempat menyaksikan kemeriahan Pagaralam Culinary Night merasa penasaran. Mereka pun mendatangi kawasan Talang Jawa. Tetapi mereka merasa kecewa, karena gelaran kemeriahan yang banyak diberitakan media itu ternyata tidak ada.

“Kami merasa tegajul. Kami kira Pagaralam Culinary Night ini diselenggarakan setiap malam Minggu,” kata Ervansyah (40) yang datang bersama seluruh anggota keluarganya.

Kekecewaan yang sama juga dirasakan Nita, aktivis Aksi Cepat Tanggap (ACT), yang rencananya hendak memanfaatkan keramaian pengunjung Talang Jawa untuk menggalang dana untuk masyarakat Papua. Akhirnya Nita bersama teman-teman relawan serta sekelompok pemain musik menggelar aksi mereka di depan sebuah kedai kopi, masih di kawasan Talang Jawa.

Fhentika (20), seorang mahasiswi bahkan sudah berbelanja cukup banyak ceker ayam untuk dijadikan jenis penganan yang akan dijajakan dalam Pagaralam Culinary Night part-2.  Fhentika pun “gagal dagang” dan kemudian bergabung dengan teman-teman komunitas ACT-nya.

Dessy (38), pemilik kedai tekwan dan juice, juga merasa agak kecewa Pagaralam Culinary Night tidak ada pada Sabtu malam itu. Tetapi, kekecawaan Dessy sedikit  terobati, karena – meskipun pesta kuliner itu tidak ada diselenggarakan – tokh seluruh menu jajanan yang dijualnya tetap ludes terjual.

Ilham Bijak Pulon dan Hota Putra, dari Komunitas Besemah Heritage, yang merasa “bertanggung-jawab” atas terselenggaranya Pagaralam Culinary Night, malam itu memang datang ke lokasi Talang Jawa. Tak pelak keduanya sibuk menerima berondongan pertanyaan kalangan pedagang dan warga yang sudah terlanjur datang.

Menurut Ilham, seusai pagelaran Pagaralam Culinary Night, terutama setelah jalan raya di kawasan Talang Jawa diterangi ratusan lampu, omzet rata-rata pedagang meningkat. Warga yang berdatangan ke kawasan itu juga relatif lebih ramai daripada biasanya.

“Hanya saja mereka mengharapkan lebih dari sekadar itu. Masyarakat Pagaralam mengharapkan adanya atraksi-atraksi seperti pertunjukkan musik, penjualan benda-benda seni,  serta bentuk hiburan lainnya. Kuliner yang dijajakan di sana pun diharapkan bervariasi, hasil kreasi masyarakat. Kami dari Besemah Heritage memahami hal itu. Namun sekarang kami sedang melakukan kajian dan evaluasi, bagaimana kelanjutan Pagaralam Culinary Night ini dilakukan ke depannya. Satu hal lagi, penyelenggaraan Pagaralam Culinary Night ini juga ternyata tidak sederhana, karena harus melibatkan banyak pihak, misalnya pihak kepolisian menyangkut penutupan jalan raya, pihak Satpol PP Kota Pagaralam menyangkut keamanan dan ketertiban, serta pihak-pihak terkait lainnya.  Tetapi insya-Allah, bila masyarakat menghendakinya, kami akan berupaya menindak-lanjuti harapan masyarakat ini dengan sepenuh hati, yaitu dengan melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat juga dengan pihak-pihak terkait,” kata Ilham yang juga Operation Manager di Gunung Gare Vila Resort & Hotel.

Sementara Camat Pagaralam Selatan Helmi, mengatakan gelaran acara seperti Pagaralam Culinary Night ini merupakan hal yang relatif baru terjadi di Kota Pagaralam. Maka penyelenggaraannya pun harus dipikirkan dan direncanakan matang-matang. Kesuksesan penyelenggaraan Pagaralam Culinary Night sepekan lalu, bisa dijadikan tolok ukur, bagaimana acara itu diselenggarakan ke depannya,” ujar Helmi yang mantan Kabag Humas Pemko Pagaralam itu, saat dihubungi melalui sambungan telepon.

 

Related posts

Leave a Comment