Tingkatkan Kualitas Kopi, Pemkot Gandeng Scopi dan GCP

PAGARALAM ONLINE – Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati Basjuni, melakukan MoU dengan Scopi dan IDH Global Coffee Platform. Dengan kerjasama dan pelatihan diperuntukan bagi petani kopi akan meningkatkan harga jual kopi dengan syarat, kopi dipetik merah, dijemur dengan kadar air dibawah 20%, maka harga kopi akan lebih tinggi dengan pemetikan biji kopi asal. Jika harga kopi dipetik asal Rp 20.000 perkilogram, maka kopi petik merah bisa mencapai Rp 23.000 per kilogram bahkan lebih tergantung harga kopi dunia.

Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati Basjuni, mengatakan bahwa untuk Kota Pagaralam, ada 8.000 hektar kebun kopi. Jika semua lahan tersebut seluruh petaninya sudah mendapatkan pelatihan, bukan tidak mungkin kopi yang dihasilkan di Kota Pagaralam akan lebih baik. “MoU ini tidak sabar lagi kita lakukan, sehingga hulu dan hilir masalah kopi Kota Pagaralam ini akan lebih jelas. Terlebih lagi, hal ini akan berdampak pada petani kopi Kota Pagaralam karena bercocok tanam lebih baik, kopi yang dipetik merah, sehingga harga akan tinggi,” ujar Ida.

Dengan adanya MoU Pemkot Pagaralam dengan Scopi dan IDH GCP, kata Ida, pihaknya sangat ingin membuat petani mampu bersaing. Apalagi, jika semua petani di Kota Pagaralam menerapkan sistem ini sehingga menjadi branding baru. “Memang kopi merupakan andalan pertanian Kota Pagaralam. Untuk itulah, hasil bumi yang merupakan mata pencarian utama masyarakat Pagaralam harus bagus. Jadi, MoU yang dilakukan ini semuanya untuk keberhasilan petani kopi Pagaralam,” jelasnya.

Sementara itu, Senior Coffe and Cocoa Program Manager Indonesia IDH GCP, Imam Suharto, menjelaskan bahwa sebenarnya MoU ini merupakan tindak lanjut pelatihan kopi robusta berkelanjutan. Dimana, GCP sudah melakukan kerjasama dengan Kementerian Kehutanan dengan Scopi, mengembangkan manual nasional kurikulum kopi Pagaralam. Dari manual melatih 120 master trainer untuk Kota Pagaralam, setelah itu master trainer akan mengembangkan kepada 3.600 petani, dalam waktu 3 tahun ada 66.500 master trainer se Indonesia.

“Untuk Kota Pagaralam, pertama di Indonesia. Hal ini karena Kota Pagaralam memiliki lahan kopi yang luas dan bagus. Terlebih lagi, dengan MoU ini akan berdampak pada pemberdayaan petani, meningkatkan kualitas dan penjualan,” ujarnya.

Pasalnya, untuk harga sangat tergantung pada kualitas. Kalau kualitas belum yang diharapkan maka akan terus melakukan perbaikan. “Harga berdasarkan standar kualitas, kadar air diatas 20% tidak diambil, apalagi kotor. Untuk hasil panen tahun lalu di Semendo berbeda Rp 3.000 dengan harga dipasaran,” ujarnya.

Ditambahkan, Direktur Eksekutif Scopi Veronika Herlina, scopi merangkul semua kegiatan kopi, fokus untuk mengikutsertakan Kota Pagaralam sehingga memperkuat petani kopi Pagaralam. “Kita berharap hasil kopi di Kota Pagaralam akan meningkat dan kualitasnya lebih baik. Pasalnya, petani akan diberikan kurikulum terbaik untuk mendapatkan kualitas biji kopi nomor satu,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Fahrurozi, didampingi Kepala Dinas Kehutanan Kota Pagaralam, Jumaldi Jani, mengatakan, pihaknya sangat setuju dengan program ini. Kemudian, akan melakukan evaluasi sehingga berjalan dan dilaksanakan bermanfaat. “Jika petani fokus bisnis kopi, maka akan maju petani kopi. Jadi, kami sangat mendukung program ini. Apa yang dibutuhkan akan dibantu asalkan itu untuk kemajuan kopi di Kota Pagaralam,” tegas dia.

Yang terpenting, petani kalau punya posisi tawar yang kuat harus berkelompok, dilatih dengan standar yang sama.

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.