Tolak Jadi Wakil Walikota, Henky Solihin Mundur dari Bursa Pilkada

BANDUNG—Keputusan politik mengejutkan disampaikan bakal Calon Walikota Pagaralam, Henky Solihin, SH MH. Setelah sebelumnya digadang-gadangkan maju dalam Pilkada Pagaraam 2018, secara mendadak advokat dan konsultan Kekyaan Intelektual kondang ini menyatakan mundur dari bursa Pilkada Pagaralam 2018.

Menurut Henky, keputusan mundur tersebut dilakukan setelah mencermati konstalasi dan dinamika politik yang berkembang sampai saat ini. Keputusan mundur tersebut sebenarnya sudah diambil sekitar sepekan lalu, namun baru diumumkan melalui media massa hari ini Senin (2011).

“Beberapa kandidat telah berkomunikasi dan melamar saya untuk menjadi calon wakil walikota Pagaralam. Sementara saya masih tetap bertahan untuk menjadi calon walikota. Karena tidak ada kesepakatan, maka saya memutuskan untuk mundur atau tidak mengikuti proses pencalonan dalam bursa Pilkada Kota Pagaralam tahun 2018 mendatang,’’ tegas Henky yang dihubungi Pagaralam Online, pagi ini Senin (20/11).

Menurut Henky, keputusannya untuk mundur dari bursa Pilkada Pagaralam 2018 tersebut, telah disampaikan secara terbatas kepada keluarga dan tim keluarga yang selama ini sudah bergerak ke seluruh pelosok Pagaralam untuk melakukan sosialisasi. Keputusan tersebut semata-mata demi kebaikan dirinya dan keluarga serta perjalanan demokrasi di Tanah Besemah tersebut.

“Alhamdulillah keluarga dan tim dapat menerima dan memahami keputusan saya ini , meskipun cukup banyak tim keluarga dan masyarakat Pagaralam yang menyayangkan keputusan mundur itu. Namun keputusan ini harus saya sampaikan kepada publik demi kebaikan bersama,’’ papar Henky yang saat ini  sibuk  terkait atas pengangkatanya pada Agustus 2017 sebagai Wakil Sekretaris Kongres Advokat Indonesia (KAI) DPD Jawa Barat.

Pria  yang tercatat sebagai mantan balon Gubernur Jawa Barat termuda tahun 2003 ini  menjelaskan, sejak awal dirinya berniat nyalon Walikota Pagaralam dengan membawa sejumlah gagasan dan konsep yang jelas dan terukur untuk membangun dan memajukan Kota Pagaralam. Dirinya khawatir, jika hanya menjadi calon wakil walikota, konsep pembangunan yang telah disiapkannya itu tidak akan dapat diterapkan secara maksimal. Sehingga visi dan misinya untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Pagaralam tidak akan kesampaian.

“Konstalasi politik tidak memungkinkan untuk saya maju nomor 1 (cawako), sedangkan saya menolak untuk menjadi nomor 2 (cawawako) meskipun banyak kandidat dan partai politik yang meminta saya untuk bersedia jadi cawawako,’’ ujar Henky.

 

Henky menegaskan, setelah mundur dari bursa Pilkada Pagaralam 2018, dirinya fokus kembali dengan profesinya sebagai advokat dan konsultan hak paten di Bandung, Jawa Barat dan mengurus sejumlah perusahaan yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.

“Mengenai tim keluarga dan tim sukses yang sudah terbentuk, saya telah sampaikan kepada mereka untuk menunggu perkembangan selanjutnya. Kami terus memantau dan saatnya nanti akan mendukung dan menyalurkan aspirasi politik kepada pasangan calon yang terbaik., yaitu paslon yang memiliki komptensi, integritas, bersih, jujur dan memiliki komitmen yang tinggi untuk mensejahterakan masyarakat Kota Pagaralam,’’ papar Henky yang jugatercatat  sebgai Wakil Sekjen Bandung Lawyer Club Indonesia.

Dia juga mengingatkan kepada para paslon dan tim pemenangannya serta KPUD dan Panwaslu untuk menjalankan demokrasi secara jujur dan adil sesuai UU dan peraturan yang berlaku. Begitupun jangan melakukan praktik kotor berupa politik uang yang akan merusak demokrasi dan melahirkan pemimpin yang korup. “Saya mengajak seluruh pihak, terutama masyarakat Pagaralam untuk mengawasi dan mengawal pesta demokrasi 5 tahunan di Pagaralam ini agar tercipta demokrasi yang jurdil dan damai serta menghasilkan pemimpin yang benar-benar bersih dan dikehendaki rakyat Pagaralam,’’ paparnya.

Related posts

Leave a Comment