HEADLINENASIONALPEMERINTAHANREDAKSISEPUTAR BESEMAH

Tari Kebagh, Dipuji Bung Karno, Dibenci Belanda

bungkarno-dan-kebagh

kebaghlame

PAGARALAM ONLINE – Tari Kebagh memang bukan sembarang tari. Kesenian khas masyarakat Besemah yang konon sudah ada sejak abad ke 14 masehi ini banyak mengandung nilai-nilai spitual.  Demi menjaga  keagungannya,  Tari Kebagh tidak boleh dibawakan oleh orang sembarangan. Pada awalnya, tarian ini hanya boleh dibawakan oleh perawan-perawan suci  dalam keadaan suci (tidak sedang haid).

Keagungan Tari Kebagh ini konon menjadi salah satu simbol perlawanan masyarakat Besemah, sehingga pada zaman kolonial Belanda dan Jepang, Tari Kebagh sangat dibenci dilarang ditampilkan di muka umum dan acara-acara resmi. Barulah setelah Indonesia merdeka, tari yang juga dinamakan Tari Sembang (selendang) bidadari ini diperbolehkan. Ketika Presiden Indonesia, Ir Soekarno berkunjung ke Pagaralam tahun 1952, proklamator itu disambut dengan Tari Kebagh yang dibawakan oleh seorang wanita. Bung Karno yang dikenal sangat suka seni tersebut sangat terpukau dengan suguhan Tari Kebagh yang melegenda tersebut. Konon, tari ini  telah diusulkan sebagai salah satu tarian yang ditampilkan untuk menyambut tamu tamu kehormatan di Istana Negara.

Lalu bagaimana sejarah Tari Kebagh itu, berikut Pagaralam Online menghimpunnya dari berbagai sumber.

Serly Safitri, dalam skripsiya berjudul Fungsi Tari Kebagh di Daerah Besemah Kota Pagaralam tahun 2015 menyebutkan, asal  usul Tari Kebagh di daerah Besemah pada awalnya dikenal sebagai tari Semban Bidodari merupakan tarian adat tertua yang sangat populer di daerah Besemah Libagh, merupakan tempat tersebarnya keturunan Puyang Serunting Sakti. Hanya saja tari tersebut lebih berkembang di daerah Kota Pagar Alam yang merupakan pusat dari daerah Besemah Libagh.

Pada zaman kejayaan  Puyang Serunting Sakti, konon tari ini sudah ada.  Menurut budayawan Pagaralam, Satarudin ((wawancara tanggal 16 Maret 2015), tari ini sudah ada sekitar  abad ke-14  Masehi. Berdasarkan cerita lisan, sejarah tarian ini berkaitan dengan Puyang Serunting Sakti. Pada suatu acara perkawinan yang sangat meriah dan turut dihadiri oleh Puyang Serunting Sakti dan istrinya Puyang Bidadari Bungsu. Serunting Sakti sering disebut Si Pahit Lidah, disebut Si Pahit Lidah karena semua yang diucapkannya akan terjadi dan tidak bisa ditawar lagi.

Puyang Serunting Sakti sangat ditakuti ucapannya karena menurut cerita zaman dahulu apa yang diucapkan Puyang Serunting Sakti dalam keadaan emosi maka semua akan menjadi kenyataan. Oleh karena itu, Puyang Serunting Sakti lebih dikenal sosok manusia yang sabar, bijaksana dalam setiap kata-kata yang diucapkan.

Pada saat menghadiri acara perkawinan disajikan beberapa tari tarian. Istri Puyang Serunting Sakti yang konon adalah seorang bidadari bungsu, diminta ikut turun menari. Permintaan ini disetujui istrinya dengan syarat selendang miliknya yang dirampas dan disembunyikan oleh Puyang Serunting Sakti dikembalikan padanya untuk dipakai menari. Karena terus didesak banyak orang, akhirnya dengan berat hati, Puyang Serunting Sakti mengizinkan istrinya menari dengan selendang yang diambilnya pada masa lalu. Selendang tersebut disembunyikan di dalam ruas bambu yang lazim disebut tepang.

Baca Juga  101 Anak Pagaralam Utara Di Khitan.

Maka menarilah istri Puyang Serunting Sakti dengan lemah  gemulai. Kecantikan dan kemahirannya menari membuat semua mata terpana. Hingga tanpa disadari oleh semua orang, istri Puyang Serunting Sakti tak lagi menginjak bumi, melayang-layang, semakin tinggi hingga menuju ke kahyangan, negeri asalnya.

Berdasarkan perkembangan tersebut maka, pada saat itu tari Kebagh bernama tari Semban Bidodari (Bidadari). Semban bidodari dalam bahasa daerah Besemah artinya yaitu, selendang besar yang pakai oleh seorang bidadari yang hendak menari.

Menurut Satarudin,  walau sempat dilarang hingga tahun 1900-an oleh pemerintah kolonial Belanda, tarian ini tetap dipelihara dan diajarkan secara turun temurun dari generasi kegenerasi. Tari Semban Bidodari semakin terdesak, tenggelam dan sempat menghilang pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1940-an.

Tari Semban Bidodari merupakan salah satu bentuk tari tradisi kerakyatan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Tari Semban Bidodari sangat sakral biasanya sebelum menari para penari melakukan ritual menabur beras kunyit yang artinya meminta izin kepada sang bidadari menarikan tari ini untuk menghormatinya. Tari ini hanya ditarikan oleh perempuan. Penari Semban Bidodari tidak ditentukan jumlah penarinya. Tari ini tergolong jenis tarian tunggal sehingga dapat ditarikan secara masal. Juga dapat ditarikan oleh anak, remaja, maupun orang tua.

Pada masa tahun 1950-an tari Semban bidodari lebih dikenal dengan nama tari Kebagh karena masyarakat melihat tari ini membuka lebar kedua tangan yang artinya mengebarkan sayap atau tangan maka dinamakanlah tari Kebagh. Pemberian nama tari Kebagh itu sendiri disepakati oleh ketua adat Besemah pada tahun 1950-an.

Tahun 1950- an Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno berkunjung ke Kota Pagar Alam disambut tari Kebagh yang hanya ditarikan oleh satu orang penari.

Pada tahun 1950-an tari Kebagh ditarikan pada saat pembukaan acara yang akan berlangsung. Menurut kepercayaan masyarakat Besemah, tari ini hanya ditarikan oleh perempuan yang sedang suci (tidak dalam keadaaan haid), dan hati yang bersih (tidak sedang memikirkan duniawi) melainkan sedang berhati senang gembira menyambut para tamu terhormat yang hadir.

Tari Semban Bidodari atau Kebagh sempat menghilang sekitar tahun 1960-an sampai 1970- an tetapi, alasan mengapa sempat hilangnya sampai saat ini kurang diketahui alasannya secara pasti dan terangkat kembali sekitar tahun 1980 ketika Bupati Lahat dan Menteri Muda Pertanian dan Perkebunan datang ke daerah Besemah yang saat itu masih terbentuk dalam wilayah Kabupaten Lahat.

Baca Juga  Kemenkeu RI Lagi-Lagi Ganjar Penghargaan Untuk Pagaralam Karena Baik Kelola APBD

Tari Kebagh kembali ditampilkan untuk menyambut tamu tersebut yang disajikan oleh kepala lembaga adat Bapak Ahmad Amran sebagai pemusik pengiring tari Kebagh dan Ibu Ema Tusak Diah beserta dua temannya sebagai penari Kebagh, dan mendapat sambutan yang hangat dari para penonton.

Sejak itu, Bapak Amran dan Ibu Ema sebagai generasi penerus tari Kebagh merasa ada harapan untuk mengangkat kembali tari Kebagh. Hal tersebut mendapat dukungan dari Bupati Lahat yang sangat prihatin dengan seni budaya daerah.

Tari ini biasanya dipertunjukan pada acara pesta-pesta kebesaran. Khususnya untuk menyambut para pembesar yang hadir. Pada tahun 2001, Pagar Alam mulai memisahkan diri dari daerah wilayah Administratif Kabupaten Lahat. Tahun 2002 tari ini dibakukan oleh seniman dan walikota Pagar Alam H. Djazuli Kuris ditetapkan namanya tari Kebagh dan menjadi ciri khas tari sambut Besemah.

Walikota dan seniman Pagaralam menganggap bahwa tarian Kebagh adalah tarian yang terindah dari tari-tarian Besemah lainnya, sehingga tari Kebagh dipilih menjadi tari Sambut di tanah Besemah saat ini. Pada tahun 2002 tari Kebagh tampil sebagai tari identitas Kota Pagar Alam yang dilaksanakan di tanah lapang Ahmad Yani Kota Pagar Alam, yaitu pada saat perubahan nama Kecamatan Pagar Alam menjadi Kota tersendiri dan melepaskan nama daerah dari Kabupaten Lahat menjadi Kota Pagar Alam.

Pada tahun 2002, Tari Kebagh diperkenalkan keseluruh masyarakat Sumatera Bagian Selatan yang hadir pada saat acara Festival Sriwijaya di Palembang Sumatera Selatan. Mulai tahun 2002 jumlah penari dalam tari Kebagh ditentukan minimal tiga orang penari, sedangkan untuk maksimalnya tidak dibatasi seperti tahun 2008 tari Kebagh ditarikan secara masal .

Dalam kesimpulan skripsinya, Serly  Safitri menyebutkan, Tari Kebagh di daerah Besemah Kota Pagar Alam memiliki empat fungsi. Fungsi pertama yaitu berfungsi sebagai upacara Negak Bubungan atau dikenal dengan istilah selamatan rumah, didalam rangkaian upacara tersebut terdapat pertunjukan tari Kebagh yaitu sebagai pelengkap prosesi upacara. Fungsi kedua yaitu untuk upacara pemotongan hewan kerbau dalam acara bersih desa. Dalam fungsi ini tari Kebagh ditampilakan pada saat pembukaan upacara.

Fungsi ketiga tari Kebagh yaitu penyambutan tamu untuk tamu agung atau orang terhormat yang datang ke Kota Pagar Alam yang mana biasanya ucapan selamat datang disimbolkan dengan pemberian tepak sirih oleh penari kepada tamu yang datang. Fungsi terakhir tari Kebagh yaitu sebagai hiburan yang biasa ditampilkan pada acara perkawinan, khitanan, dan peresmian gedung

 

Related Articles

2 Comments

  1. Assalamu’alaikum wr wb, untuk sejarah kota pagaralam harus memang diungkap secara detail mulai dari sejarah jaman batu sampai modern agar kelak generasi penerus akan tahu sejarah kota pagaralam secara lengkap dan kalo perlu dibuatkan buku yang harus mengacu pada fakta dsan sumber terpercaya ,sehingga kita tahu trah atau garis keturunan raja-raja di sumatera selatan, dan bila perlu dibentuk tim peneliti yang harus dibiayai secara penuh untuk seluruh kegiatannya sehingga akan baik hasil pekerjaannya dari segalanya yang akan jadi sejarah kota pagaralam khususnya, dan semoga saran saya di follow up ,terimakasih wassalamu’alaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close