EKONOMIHEADLINENASIONALPEMERINTAHAN

Kenantan Buih, taman bekas pasar yang tak bermanfaat


PAGARALAM ONLINE- Keberadaan  Taman Kenantan Buih yang merupakan bekas Pasar sayur Seghepat Seghendi ,terletak di simpang Tebat Baru, Kecamatan Pagaralam Selatan mendapat sorotan masyarakat. Pasalnya, keberadaan taman kota tersebut dinilai tidak ada manfaatnya sama sekali. Padahal taman kota tersebut dibuat setelah membongkar paksa pasar hingga menyebabkan ratusan pedagang kehilangan mata pencaharian.

Pantauan Pagaralam Online, sebenarnya Taman Kenantan Buih  yang dibangun sekitar 5 tahun lalu ini tidak pantas disebut taman. Mengingat lokasi eks pasar tersebut hanyalah lahan kosong yang dberi pagar pembatas permanen. Di dalamnya tidak ada tanam-tanaman layaknya taman-taman kota yang tertata rapi. Di depan pagar, hanya ada beberapa pot tanaman yang tidak terawat. Parahnya lagi, terdapat sebuah kotak sampah besar persis di samping depan pintu taman yang menebar bau busuk menyengat. Tujuan taman untuk mempercantik kota tampaknya jauh dari harapan. Mengingat kondisi taman yang tidak terawat. Sejumlah bangku tempat  dan pagar yang sudah kusam dan berkarat membuat taman ini semakin terbengkalai

Tarman (50), warga Tebat Baru Ilir menceritakan, sebelum diubah menjadi taman Kenantan Bui, lokasi pasar Sergepat Sergenti ini dulunya selalu ramai dengan aktifitas jual beli sejak pagi hingga malam hari. Bahkan dulunya pasar tersebut menjadi salah satu pusat ekonomi di Pagaralam.

Baca Juga  Deddy dan Fadly Saingi Jimmy rebut Ketua KNPI Pagaralam

“Tidak ada manfaatnya sama sekali bagi masyaraat taman Kenantan Buih ini. Justru merugikan karena taman ini dibuat setelah menggusur pedagang kecil di Pasar Seghepat Seghendi yang sudah puluhan tahun,” tegas Tarman kesal.

Tarman mengungkapkan betapa menyedihkannya nasib ratusan pedagang sayur yang menjadi korban penggusuran oleh Pemkot Pagaralam yang membongkar pasar demi untuk membangun sebuah taman kota. Namun kenyataannya, taman tersebut tidak berguna sama sekali. ” Ini zolim namanya. Pedagang kecil digusur dan diusir hanya untuk membangun taman yang justru sekarang terbengkalai sama sekali,” tandasnya.

Zuraida (61),pedagang eks pasar Sergepat Sergendi yang kini berjualan di pasar terminal Nendagung menuturkan,ketika pasar Sergepat Sergendi masih berdiri,dia dan seluruh pedagang kala itu merasa sangat nyaman berjualan. Mengingat  lokasi pasar yang dekat pusat kota sehingga memudahkan konsumen yang hendak membeli barang dagangan. “Eentah mengapa kemudian kami pedagang diusiri. Dilarang berjualan dengan alasan membuat kota menjadi kotor,” ungkap Zuraida.

Baca Juga  Warga 8 Dusun Berikan Suara Mutlak untuk IDAMAN

Zuraida membandingkan pendapatannya ketika dahulu berdagang di pasar Seghepat Sghendi  dengan saat ini  berdagang  di Pasar Nendagung. Disebutkan, ketika masih berjualan ayam di pasar Seghepat Seghendi,sehari bisa memperoleh keuntungan Rp 100.000 Rp 200.000 . Namun sejak terpaksa pindah ke pasar Nendagung ,sehari belum tentu  dapat Rp 50.000 .

Sementara itu ,Heriansyah,   tokoh pemuda Kota Pagaralam menyayangkan sikap Pemerintah Kota Pagaralam yang melentarkan taman kota tersebut. Mengingat taman tersebut dibangun setelah menggusur ratusan pedagang kecil. “”Sayang sekali padahal untuk membuat taman ini harus mengorbankan mata pencaharian ratusan pedagang kecil,” tegasnya.

Heriansyah meminta Pemkot Pagaralam membuat kebijakan yang pro rakyat. Bukan malah membuat rakyat menderita. “Buatlah program yang mensejahterakan rakyat, bukan malah menyengsarakan rakyat,” tandasnya.

Heriansyah juga mempertanyakan sikap seluruh anggota DPRD Kota Pagaralam yang hanya diam  melihat kebijakan yang Pemkot merugikan masyarakat. Padahal mereka dipilih  menjadi wakil rakyat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. “Mungkin anggota dewan tidak berani bicara lagi karena sudah lupa dengan rakyat,” sindir Heriansyah.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close