Tado Basri: Saya Yakin Pemkot Kesulitan Interest Untuk Pengadaan Program 1 Juta Stek Kopi!

PAGARALAM ONLINE – Masih rendahnya pendapatan petani kopi Pagaralam yang di sebabkan faktor hasil panen yang tidak menentu ditambah harga jual di tingkat pengepul yang fluktuatif mengundang keprihatin beberapa pihak.

Seperti yang diungkapkan Harumin Tado atau lebih dikenal dengan nama Tado Basri salah seorang praktisi tanaman kopi kota Pagaralam.

Dikatakannya,akibat masih rendahnya penghasilan para petani kopi alhasil tingkat sejehteraan mereka pun ikut rendah.Tak jarang untuk kebutuhan sehari-hari saja para petani kopi ini masih kesulitan di perparah harga kebutuhan pokok yang terus meningkat.

“Silahkan kalkulasikan saja,jika dalam satu kali musim panen kopi dalam 1 tahun itu jika dalam kondisi bagus petani yang menanan 3000 batang hasil panennya mungkin di kisaran angka 1 ton biji kopi kering dan jika di tingkat pengepul lokal harga belinya andaikan Rp 20.000/perkilo maka petani mendapatkan uang Rp 20.000.000,namun jika jumlah ini di bagi 365 hari dalam setahun maka jumlahnya hanya Rp 54,800 angka yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di bandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini,.Rp 54,800,perhari itu jika di belanjakan kebutuhan pokok misalnya beras,gula,minyak goreng serta lauk pauk itu saja sudah mepet,belum lagi kebutuhan anak sekolah,listrik dan lain-lain,jadi tak heran akhirnya para petani kopi kita terpaksa harus berhutang sana-sini dan akan di bayar saat panen tahun berikutnya,”ungkapnya

Untuk mengatasi persoalan ini lanjut Tado,petani kopi Pagaralam saat ini sudah banyak berinisiatif dan berinovasi dengan melakukan penyetekan pohon kopi yang sudah berumur dengan bibit unggul dimana dengan metode ini di yakini mampu mendongrak hasil panen hingga 50 persent pertahun.

Lebih dalam Tado menjelaskan,metode sambung pucuk atau stek yang telah di terapkan oleh banyak petani kopi Pagaralam merupakan inisiatif dari para petani sendiri dengan cara mencari informasi dan meminta pucuk dahan tanaman kopi yang berbuah lebat dari sekitar kebun mereka sendiri atau mendatangi petani yang sudah berhasil mengembangkannya.

“Seperti kebun kopi milik saya sendiri yang bahan stek tunasnya saya minta dari kebun tetangga yang memang berbuah lebat dan hasilnya pun ternyata memang lebih lumayan bagus di bandingkan tidak menggunakan metode ini,”ungkapnya sembari mengatakan bahwa walaupun tidak melakukan metode sambung pucuk tanaman kopi masih dapat berbuah baik asalkan dengan perawatan yang baik misalnya dengan melakukan pemupukan secara teratur.

Menyikapi program bantuan 1 juta stek kopi dari pemkot Pagaralam untuk petani,Tado sendiri menilainya hal itu belum perlu di lakukan sebab menurutnya lebih penting membantu petani dengan cara memberikan bantuan pupuk atau alat perkebunan lainnya dan jika memberikan bantuan bibit stek akar hal itu belum bisa di dapatkan di wilayah kota Pagaralam dan harganya cukup tinggi yakni Rp 6000/polybag dan jika bantuan itu berbentuk stek sambung tunas maka dipastikan akan menemui kesulitan sumber pengadaan bibit (Interest) untuk memenuhi kuota 1 juta bibit.

“Saya yakin pihak pemkot pasti akan menemui kesulitan soal mendapatkan interest untuk program itu atau jika itu bibit stek akar maka harganya cukup tinggi juga belum ada yang melakukannya disini”tutupnya (25/06)

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.