Susno Djuadji Curhat Penderitaan Petani dan Warga Dempo Selatan Akibat Kemarau.

PAGARALAM ONLINE – Musim kemarau panjang tahun ini membuat masyarakat petani di empat wilayah kota Pagaralam yakni Kecamatan Kecamatan Dempo Utara,Kecamatan Dempo Tengah,Kecamatan Dempo Selatan dan sebagian Kecamatan Pagaralam Selatan menderita.

Yang paling terdampak dan terpukul dari kondisi ini adalah para petani pengolah sawah yang terancam gagal panen akibat pengairan sawah mereka terhenti lantaran kemarau.

Debit air irigasi yang menurun drastis bahkan kering sama sekali lantaran kemarau ini menyebabkan sawah-sawah petani pun mengering dan tanaman padi mereka pun layu dan berangsur mati.

Terparah areal persawahan yang terdampak kekeringan serta tak bisa di olah hingga mengalami gagal panen ada di kawasan Dempo Utara dan Dempo Selatan.

Seperti curhatan Komjend Pol (Pur) Susno Djuadji yang di masa pensiunnya sekarang banyak menghabiskan waktu menjadi petani dikampung halamannya di dusun Tebat Gunung Kecamatan Dempo Selatan.

Diakun facebooknya “Susno Djuadji” menuliskan penderitaan petani di kecamatan Dempo Selatan yang tak lagi bisa mengolah dan memanen padinya akibat sawah yang mengering,juga dia menceritakan kesusahan warga setempat mendapat air bersih karena sumur-sumur warga pun ikut mengering.

Berikut tulisan Komjend Pol (Pur) Susno Djuadji di akun facebookny.

KEMARAU TAK MENARIK PERHATIAN
————————————————
Dempo Selatan, Ahad 25 Agustus 2019, Kemarau ohhhh,,,, kemarau,, sudah cukup lama ,, sudah sekian bulan,,,, oh hujan belum juga kau mau turun, hujan kenapa kau belum juga membuat petani senyum atau kau mamang senang dengan derita petani, atau sengaja kau gak mau turun agar petinggi negeri , agar para elit, agar para politisi, agar pewarta dan media ada sedikit perhatian pada petani,,,
Tak taulah aku,,,

Kira-kira demikian lah jerit petani kepada cuaca dan alam saat ini,
Kemarau berkepanjangan di mana-mana, kondisi lahat kebun dan sawah sudah ada yg pecah-pecah, tanaman sudah mulai layu , pertanda kematian tumbuh-tumbuhan segera terjadi,,,

Sumber-sumber air mulai kering, sumur rakyat mulai tidak berair, hujan masih juga belum turun,,,

Sementara media dan elit di pusat lebih senang membincangkan koalisi, jatah kursi menteri, dari pada lahan pertanian yang mulai mengering, kalau pun ada bukan soal lahan pertanian, tapi soal kabut asap, agar orang berduit nyaman naik kapal terbang yang hanya impian bagi petani,,, mahal,,, oh mahal,

Petani adalah mayoritas penduduk negeri ini, gagal panin sawah dan kebun maka hancurlah ekonomi petani, itu artinya derita bagi sebagian besar penduduk negeri,,, belum lagi ditambah penderitaan akibat murah nya harga komiditas pertanian , seperi harga ; karet, sawit, lada, kopi, dll.

Kembali ke musim kemarau panjang, petani sangat khawatir tanaman di sawah maupun di ladang akan mati karena kekurangan air, bagi petani yang masih punya modal terpaksa melakukan usaha memperdalam sumur atau membuat sumur baru, hanya sekedar mencari sedikit air untuk menyiram tanamaman dan minuman hewan ternak,,,
Mau buat sumur bor dengan pompa listrik rasanya mustahil karena biayanya lumayan mahal,,,

Demikianlah sekelumit derita petani dikala kemarau panjang terjadi,,,
Kenapa ya ,,, perhatian dan biaya lebih tercurah kepada kabut asap daripada membuat sumur dan pompa untuk membantu petani,,,

Kalau saja dua-dua nya diperhatikan dan dianggarkan ; mengatasi kabut asap dan pompanisasi lahan pertanian rakyat, maka rasanya akan lebih harmonis,,,, naik kapal terbang akan nyaman, petani akan tersenyum , produktivitas pertanian akan stabil,,, ekonomi rakyat menjadi bagus,,,

Semoga

Susno duadji
——————————-
– Petani desa di Dempo Selatan, Sumsel

 

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.