Ironi Pilkada Satu Putaran.Prediksi VS Proyeksi Pilkada Pagaralam 2018

PAGARALAM ONLINE – Pilkada serentak pada Juni 2018 mendatang menimbulkan dinamika politik yang cukup dinamis di tataran masyarakat dan warga kota Pagaralam. Dan warga pun disuguhi dengan figur-figur serta nama-nama yang berseliweran dan mengaku sebagai bakal calon walikota serta siap membawa daerah ini menuju kemajuan dan kemakmuran.

Sebut saja duo incumbent wako Hj Ida Fitriati dan wawako Novirzah SE yang di kabarkan akan beradu tanduk dan tidak akan berpasangan lagi.Kemudian ada figur Ir Gunawan yang berbasis teknokrat yang digadang mampu meningkatkan infrastruktur perkotaan jadi lebih baik.Ada juga figur Hengky Solihin dan Agus Effendy duo pengusaha muda yang sukses di rantau dan bertekat pulang kampung untuk membangun daerah.Terakhir ada figur Hermanto Kew yang rekam jejaknya belum banyak warga tahu serta figur Ludi Oliansyah sosok pengusaha konstruksi sukses yang mengaku siap dan mendapat dukungan penuh warga.

Melihat komposisi perolehan kursi di DPRD hasil pemilu legislatif tahun 2014 sebagai salah sarana dan syarat maju pilkada Pagaralam diluar jalur perorangan (independent).Perolehan kursi  beberapa partai di tiga daerah pemilihan (Dapil) yakni dapil I Pagaralam Utara,Dapil II Pagaralam Selatan dan Dapil III Dempo (Dempo Utara,Dempo Tengah,Dempo Selatan) yakni Nasdem 3 kursi,PKB 2 kursi,PKS 2 kursi,PDIP 3 kursi,Golkar 3 kursi,Grindra 3 kursi,Demokrat 2 kursi,PAN 1 kursi,Hanura 2 kursi,PBB 3 kursi dan PKPI 1 kursi total 25 kursi dewan.

Dari komposisi  25 kursi legislatif di DPRD, figur bakal calon kepala daerah wajib minimal di usung lima kursi dewan untuk maju pilkada. Jika koalisi solid nasional juga berlaku Pagaralam,tentu hal ini bisa di prediksi herlatan pilkada walikota dan wakil walikota nanti tidak akan memunculkan terlalu banyak figur.

Namun jika dinamika atau eskalasi politik nasional dan daerah berubah,maka bisa jadi komposisi  25 kursi dewan kota Pagaralam akan memuncul 5 pasangan calon kepala daerah jalur partai ditambah pasangan calon dari jalur perorangan (independent).

Jika menilik kerapatan jumlah penduduk kota Pagaralam yang terkonsentrasi di daerah perkotaan.Tentu pertarungan pilkada walikota dan wakil walikota nantinya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan yakni dapil I Pagaralam Utara dan dapil II Pagaralam Selatan dan Dapil Dempo akan jadi pelengkap kemenangan atau kekalahan pasangan calon nantinya.

Berdasarkan pada Undang-Undang Nomor  8 Tahun 2015 tentang pilkada Gubernur,Bupati dan Walikota yang menyatakan pasangan calon gubernur,bupati dan walikota yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih (kecuali Daerah Istimewa Aceh,Papua dan DKI Jakarta yang mempunyai mempunyai aturan berbeda terkait otonomi khusus dan aturan tentang ibukota negara).Tentu setiap pasang calon kepala daerah akan berkompetisi mati-matian untuk memperoleh suara terbanyak atau tertinggi diantara paslon lain lantaran tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang pertarungan.

Bisa jadi pemenang pilkada Pagaralam kelak hanya memperoleh 12 persent dukungan dari warga yang menggunakan hak suaranya.Tentu saja hal ini ironi yang jadi kenyataan.Sebab 12 persent itu lah yang akan menghantar figur tersebut menjadi kepala daerah selama lima tahun.Lantas pertanyaannya bagaimana dengan 88 persent pemilih lain yan tidak mendukung pasangan terpilih tersebut?

Namun apapun itu.Warga berharap siapapun yang akan terpilih menjadi kepala daerah 2018 mendatang,akan mendatang kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga (Redaksi Pagaralam Online)

Related posts

Leave a Comment