Politik Uang Bukan Budaya Jeme Besemah

Oleh : Tuan Guru Fekri Juliansyah
Sangat memprihatinkan. Satu dasawarsa terakhir ini, kondisi pesta demokrasi di Kota Pagaralam tercoreng oleh perilaku kotor oknum-oknum politikus yang berlaga di Pemilihan Walikota (Pilwako) maupun dalam pemilihan anggota legislatif (pileg). Adalah kenyataan, sebagian besar masyarakat Pagaralam sudah terkena racun politik uang. Praktik haram ini tidak lagi mencerminkan karakter Jeme Besemah yang menegakkan kepemimpinan berdasarkan sendi-sendi dan nilai budaya yang berpedoman kepada hukum (syara’), yaitu kitabullah (Al Quran) dan As Sunnah.
Ada beberapa filosofi dalam masyarakat Besemah terkait pergantian kepemimpinan, yaitu filosofi Janji Nunggu Kate Betaruh, Ukur Setempap nga Sekilan dan Ikan Mati Jangah dik Ngambik ,Aguk sedusun jangah ditinggal!.
Filosofi pertama Janji Nunggu Kate Betaruh itu berarti masyarakat Besemah, termasuk Pagaralam didalamnya dididik untuk menepati janji, mengedepankan kejujuran serta bertekad bulat di dalam mengantarkan pemimpin (termasuk walikota). Jika ia mengatakan akan mendukung seseorang, maka dukungan itu akan terbukti hingga yang didukung menempati posisi sebagai pemimpin tanpa perlu dibayar (money politic). Begitu juga sebaliknya mereka yang duduk sebagai pemimpin tadi juga akan berkomitmen kepada apa yang telah diucapkan atau dijanjikan kepada para pendukung atau rakyat yang dipimpin.
Filosofi kedua Ukur Setempap Nga Sekilan bermakna masyarakat Besemah itu akan mengukur sejauhmana kedekatan emosional para kandidat dengan mereka, termasuk hubungan kekerabatan. Jika si calon pemimpin walikota atau caleg dekat dengan masyarakat, maka mereka akan memberikan dukungan penuh sebagai wujud “Ukur Setempap nga Sekilan”, sejauhmana kedekatan emosional yang dibangun maupun kedekatan hubungan kekeluargaan. Lagi -lagi yang diukur bukan sebesar apa pemberian (uang dan materi lainnya) dari sang kalon kepala daerah atau caleg itu .
Begitupun dengan filosofi ketiga, Ikan Mati Jangah Dek Ngambek, bermakna bahwa Masyarakat Besemah itu mengedepankan sifat gotong royong, kebersamaan dan saling tolong menolong dalam mendukung atau mensukseskan suatu kegiatan, baik pencalonan salah satu anggota keluarga yang diistilahkan “mancang” maupun secara umum akan mensukseskan “aguk’an’ atau pesta demokrasi, termasuk pemilihan walikota dan pemilihan legislatif.
Jika ketiga filosofi budaya Besemah ini diterapkan maka saya yakin, pelaksanaan pesta demokrasi di Bumi Besemah ini akan berjalan tanpa politik uang. Masyarakat Besemah adalah masyarakat yang beragama dan di dalam ajaran Islam politik Uang adalah perilaku yang diharamkan. Semoga pesta demokrasi di Kota Pagaralam kali ini akan menjadi contoh yang baik bagi pemilihan kepala daerah di nusantara. Hal ini harus dimulai dari i’tikad baik para kontestan yang akan bertarung di Pilwako Pagaralam maupun Pemilu Legislatif 2019 mendatang.

Penulis adalah Dewan Pendiri Majelis Adat Djagat Besemah

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.