Petani Minta Pemkot Pagaralam Tindak Lanjuti Rancangan Kerjasama Dengan PD Pasar Palembang Jaya.

PAGARALAM ONLINE – Melimpahnya komuditas sayur mayur dikota Pagaralam yang memang sebagian masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani,sudah seyogyanya membuat para pemangku kepentingan terutama pemerintah daerah melihat ini sebagai potensi ekonomi daerah sekaligus tantangan yang dapat dikembangkan selain komuditas kopi.

Komuditas sayur mayur dari para petani menurut pantuan media ini,setiap harinya berakhir di pasar induk terminal Nendagung kota Pagaralam dimana para pengepul sayuran lokal menjadi penampung utamanya untuk kemudian di pasarkan ke kota-kota besar seperti Palembang dan beberapa kota lainnya.

Mata rantai distribusi sayuran dari petani untuk pasaran keluar daerah selama ini memang dikuasai oleh para pengepul lokal dimana setiap harinya berton-ton berbagai jenis sayur mayur hasil panen petani dikepak dan dikirim menggunakan mobil angkutan besar maupun kecil dimana kota Palembang jadi tujuan utama serta pasar terbesar dari komuditas sayur mayur asal kota Pagaralam selain kota-kota lain semisal Padang dan Pekanbaru.

Komuditas utama seperti Sawi,Kol,Cabe,Terong,Kentang hingga Tomat dan berbagai jenis sayur mayur lainnya asal Pagaralam setiap harinya tiba di Palembang dan menjadi bahan konsumsi warganya yang mempunyai 44 pasar tradisional maupun modern.

Namun persoalan kemudian kondisi ini tak membuat pendapatan dan kehidupan para petani sayuran dikota Pagaralam menjadi lebih baik lantaran harga jual ditingkat pengepul yang masih tergolong rendah akibat panen melimpah atau yang sering terjadi adalah para petani sering kali meminjam modal tanam kepada para pengepul yang membuat pendapatan petani tak maksimal karena panen mereka sebagian adalah untuk membayar hutang.

Pada tahun 2106,Direktur Operasi (DirOps) PD Pasar Palembang Jaya, Febrianto merancang rencana kerjasama dengan sejumlah pihak termasuk Pemkot Pagaralam guna menjamin pasokan komuditas sayuran serta menjaga stabilitas harga sekaligus untuk memotong mata rantai distribusi barang dari petani ke 44 pasar yang di naungi oleh PD Pasar Palembang Jaya.

Febrianto menjelaskan,untuk komoditas agribisnis, khususnya sayuran,  saat ini PD Pasar Palembang Jaya tengah merancang kerjasama dengan Pemerintah Kota Pagaralam. Tujuannya meningkatkan penyerapan hasil pertanian Kota Pagaralam dan mempermudah distribusinya ke 44 pasar di Kota Palembang.

“Kami surati Walikota Pagaralam untuk membahas rencana kerjasama ini. Sedang diatur jadwal audensi dengan Walikota Pagaralam dan jajarannya,”jelas Febrianto kepada Pagaralam Online, Rabu (12/10/2016).

Menurut Febrianto, dalam audensi dengan Walikota Pagaralam nantinya, pihaknya berharap juga dihadiri dinas terkait, camat dan lurah, tokoh masyarakat dan para kelompok tani serta  pedagang besar  yang ada di Kota Pagaralam. Sehingga mendapatkan informasi dan aspirasi yang lebih lengkap.

“Kami ingin mendapat masukan yang riil tentang kesulitan-kesulitan yang dialami petani dan pedagang Pagaralam. Begitupun masukan dari jajaran Pemkot Pagaralam,” ujarnya.

Febrianto mengatakan, kerjasama yang digagas tersebut juga dalam rangka memotong rantai panjangnya rantai distribusi tata niaga yang menyebabkan  ekonomi biaya tinggi. Padahal panjangnya rantai distribusi ini hanya dinikmati  para tengkulak, sementara petani tidak mendapatkan harga yang wajar.

“Sebagai contoh, selama ini distribusi sayuran asal Pagaralam menumpuk di Pasar Jakabaring, kemudian baru disalurkan ke pasar-pasar lain di Kota Palembang.  Sekarang kami punya pemikiran bagaimana pasokan sayuran tersebt bisa langsung ke 44 pasar yang ada di Palembang, sehingga akan mengurangi biaya distribusi. Dengan berkurangnya rantai distribusi ini maka logikanya harga akan lebih murah dan diharapkan dengan adanya kerjasama ini, maka penyerapan hasil pertanian dari Kota Pagaralam akan meningkat, sehingga pendapatan petani dan pedagang sayur di Pagaralam juga meningkat,” ujarnya.

Hingga tahun 2019 ini,rancangan kerjasama antara PD Pasar Palembang Jaya dengan Pemkot Pagaralam belum sempat terealisasi sehingga dinilai perlu untuk ditindak lanjuti demi kesejahteraan para petani dan warga pada umumnya.

“Dengan rancangan ini saya yakin petani mampu mendapatkan penghasilan yang lebih baik namun tetap mengedepankan kwalitas produknya,sekaligus terlepas jerat hutang dengan para toke-toke,” Ujar Syamsir (60) salah satu petani lokal kepada Pagaralam Online (28/08)

 

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.