NASIONAL

Perburuan Satwa Dilindungi Masih Marak

PAGARALAM ONLINE – Seksi Konservasi Wilayah II Lahat,Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, mengakui tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga dan melestarikan satwa dan tumbuhan dilindungi masih tergolong rendah. Buktinya perburuan satwa liar dan dilindungi masih kerap terjadi dikawasan Kabupaten Lahat, Kota Prabumulih, Kabupaten Muara Enim, Kota Pagaralam, Kabupaten Empat Lawang, Pali, Musirawas, Muratara dan Kota Lubuk Linggau yang menjadi areal pengawasan Seksi Konservasi wilayah II

“Sosialisasi kepada masyarakat terus kami lakukan,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Lahim.

Jenis hewan yang dilindungi, ungkap Lahim, meliputi rusa, gajah, harimau, siamang, landak, tringgiling, tapir dan lainnya. Masyarakat pun terus diberitahu, melalui sosialisasi atau pun melalui aparat desa masing-masing yang berdekatan dengan kawasan konservasi.

Baca Juga  Kedapatan Mojok Ditempat Gelap dan Sepi,Sepasang Remaja Disuruh Pulang Oleh Petugas Polsek PAS.

Menurut Lahim, payung hukum yang melindungi satwa atau pun tumbuh-tumbuhan langkah ini sudah jelas, yaitu Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi. Dalam Undang-undang tersebut sudah jelas bagaimana perlindungan terhadap satwa. “Jangankan jual beli, memelihara saja tidak boleh, apalagi sampai membunuh satwa atau pun tumbuh-tumbuhan yang dilindungi,” ungkapnya.

Kabupaten Lahat sendiri memiliki dua wilayah hutan konservasi, wilayah konservasi Isau-isau Pasma yang meliputi hutan di area Muara Enim, Perangai, Pagun, Semende, Kota Agung, seluas 16.998 hektar, ditambah wilayah pusat pelatihan gajah area Perangai seluas 210 hektar. Selanjutnya wilayah konservasi Gumay Pasma, seluas 46.123 hektar, yang meliputi Kecamatan Pajar Bulan, Gumai Ulu, Pseksu, Kikim Selatan, Jarai, dan Muara Payang. “Fungsinya untuk penelitian, baik itu kayu, tanaman, maupun satwa. Seluruh yang ada dihutan tersebut tidak boleh diganggu, bahkan untuk masuk pun harus mengantongi izin,” jelasnya.

Baca Juga  Jalan rusak parah, Rombongan Herman Deru ¬†Terjebak

Tetapi, Lahim tidak memungkiri konflik antara manusia dengan satwa dilindungi beberapa kali terjadi di wilayah Kabupaten Lahat, seperti serangan beruang di Tanjung Sakti Pumi. Tetapi, serangan terjadi bukanlah tanpa sebab, habitat beruang yang sudah rusak akibat perkebunan, menjadi penyebab. “Sudah sifat hewan buas menghidari bertemu manusia, tapi bila habitat dirusak dan mereka terancam, akan menyerang manusia. Kuncinya jangan dirusak habitat mereka,” himbaunya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close