HEADLINENASIONALSEPUTAR BESEMAH

Penyebar Islam di Besemah, Siapakah Puyang Awak?

PAGARALAM ONLINE — Sejarah penyebaran Agama Islam di Nusantara, sangat menarik untuk disimak. Di Pulau Jawa, kisah Wali Songo sangat mashyur. Banyak catatan dan fakta sejarah, bagaimana 9 ulama besar tersebut menyebarkan ajaran Islam secara damai. Bagaimana Islam disebarkan secara pelan-pelan, sehingga mengubah kepercayaan masyarakat Pulau Jawa saat itu yang menganut animisme dan sebagian pengaruh agama Hindu.

Lalu bagaimana penyebaran agama Islam di Tanah Besemah, Kota Pagaralam dan sekitarnya?  Siapakah pembawa dan  penyebar agama Islam pertama di dataran tinggi Gunung Dempo ini?

Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi, telah ada seorang tokoh Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak, yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.

Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG. KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14–17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang di istilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M/ 1072 H, menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.

Namun, sumber lain menyebutkan bahwa seorang mubaligh dari Pulau Jawa/Mataram Kuno bernama Baharudin, menyeberang ke Pulau Sumatera lewat tanah Banten dengan menggunakan sebuah rakit yang terbuat dari pelepah kelapa, menginjakan kakinya pertama kali di ujung paling selatan pulau Sumatera, tepatnya di daerah Tanjung Tua (sekarang hanya beberapa meter saja dari Menara Suar Tanjung Tua). Beliau berjalan kaki singgah di daerah Komering menuju ke Palembang, singgah pula di daerah Enim terus menelusuri aliran sungai Lematang dan tiba di Desa Perdipe, yang terletak di tepian sungai Lematang wilayah tanah Besemah.

Di tanah Besemah, beliau menyebut dirinya Baharuddin, sedangkan sebutan Puyang Awak adalah sebutan yang diberikan masyarakat Besemah sebagai ungkapan penghormatan tertinggi yang diberikan kepada Beliau.

Pertama kali Puyang Awak sampai di desa Perdipe dan menetap disana, Beliau beradaptasi sekaligus mempelajari bahasa dan pola hidup serta keyakinan yang ada di tanah Besemah waktu itu. Keberadaan Beliau pertama kali tidak menunjukan citra bahwa Beliau adalah seorang Mubaligh yang bertujuan menyebarkan ajaran baru bagi masyarakat. Di desa Perdipe ini, beliau menumpang hidup pada suatu keluarga, sambil membantu pekerjaan dalam keluarga itu, serta membantu pula terhadap siapa saja yang membutuhkan bantuan. Oleh karena sikap Beliau yang suka membantu tersebut, dalam tempo relatif singkat Beliau sudah cukup dikenal oleh sebagian masyarakat.

Sikap yang ditunjukan oleh Baharuddin terhadap semua lapisan masyarakat, besar atau kecil, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, miskin atau kaya, jelas sangat berbeda dengan perilaku atau sikap hidup masyarakat Besemah pada waktu itu, dimana ego dan ambisi begitu menonjol diantara kelompok masyarakat yang terbagi dalam 6 anak suku yakni Penjalang, Semidang, Sumbai Besar, Mangku Anom, Ulu Lurah dan Tanjung Raye. Setiap suku merasa bahwa suku merekalah yang terbaik, sehingga seringkali terjadi pertikaian. Karena sikap Beliau yang berbeda atau menyolok tersebutlah sehingga nama Beliau begitu cepat terkenal dan populer di kalangan masyarakat Besemah. (sikap yang mampu mengambil hati masyarakat banyak).

Perbuatan yang dilakukan Beliau tersebut, sebenarnya bukanlah perbuatan yang besar, melainkan hanya tindakan kecil yang kelihatannya sepele namun menyentuh hati masyarakat, misalnya : Suatu ketika Baharuddin mendengar beberapa orang perempuan yang berbicara sewaktu mereka memasak untuk suatu acara perkawinan, mereka kesulitan memperoleh daun pisang yang diperlukan untuk memasak, daun pisang habis semua, sedangkan untuk meminta bantuan kepada laki-laki adalah tidak mungkin karena dianggap tabu bila laki-laki mengerjakan pekerjaan perempuan (Gaweh Betine).

Mendengar keluh kesah para ibu tersebut, tanpa memberitahu apapun, Baharuddin langsung mengambil daun pisang yang tumbuh liar di hutan. Perbuatan Baharuddin tersebut menjadi perhatian masyarakat karena tidak lazim dilakukan oleh seorang laki-laki. Bagi kaum laki-laki, pemandangan seperti itu dianggap “memalukan” karena tidak menjaga martabat laki-laki. Lain halnya dengan para ibu yang merasa sangat dihargai dan diperhatikan oleh beliau, sehingga menorekan kesan yang mendalam dan harkat kemanuasiaan kaum ibu sedikit terangkat.

Baca Juga  Belum Banyak Yang Tahu,Disini Ternyata Ibukota Pagaralam Tempoe Doeloe.

Peristiwa lain dari sikap dan perilaku Baharuddin, suatu ketika Beliau mendengar seorang ibu yang sedang hamil muda, mengidam ingin sekali maka buah petai, padahal waktu petai sedang tidak musim berbuah. Entah dari mana dapatnya, setelah bepergian sebentar Baharuddin sudah datang membawa petai yang sedang ranum dan langsung diberikan kepada ibu yang sedang ngidam tersebut. Peristiwa ini, menjadi buah bibir, yang pada pokoknya Beliau selalu datang dengan tanpa diminta untuk memberikan bantuan. Walaupun bantuan itu kecil kwalitasnya, namun besar akan nilainya. Lama kelamaan, nama Baharuddin begitu populer di kalangan masyarakat Desa Perdipe dan menyebar ke desa lainnya.

Diantara warga Besemah pada waktu itu, ada seorang tokoh yang sangat disegani dan ditakuti karena banyak nyawa melayang ditangannya, budak-budaknya pun ratusan, yang diperoleh ketika memenangkan pertarungan. Tokoh itu bernama Kejabang dari anak suku Semidang (Puyang Kejabang). Kejabang rupanya tidak senang mendengar kepopuleran nama Baharuddin, padahal hanya pendatang. Kejabang lalu bermaksud menjadikan Baharuddin sebagai budaknya. Untuk itu Kejabang menyampaikan tantangan bertarung pada Baharuddin, dengan ketentuan apabila Baharuddin menolak untuk berkelahi atau kalah maka harus menjadi budaknya Kejabang. Sebaliknya bila Baharuddin menerima dan dapat mengalahkan Kejabang, maka Kejabang dan anggota keluarganya berikut semua budaknya, akan menjadi budaknya Baharuddin.

Baharuddin yang dianggap tidak menjaga martabat laki-laki itu, menerima tantangan Kejabang dan ditentukanlah temapat pertarungan adalah di Tebat Limau ± 1 km dari Desa Perdipe. Untuk itu, Baharuddin berpesan pada Kajabang agar membekali dengan seluruh ilmu-ilmu kedigdayaan baik berupa senjata maupun jampi-jampi kesaktian milik Kejabang. Serta pertarungan tersebut harus disaksikan orang banyak sebagai saksi agar masing-masing dapat menepati janji.

Pada hari yang telah ditentukan untuk pertarungan di Tebat Limau, Baharuddin bersama-sama dengan warga Desa Perdipe yang akan menyaksikan pertarungan, harus menyeberangi sungai Lematang terlebih dahulu untuk menuju Tebat Limau. Akan tetapi sewaktu akan menyeberang, Baharuddin melihat rombongan semut hitam seperti kebingungan. Rupanya Beliau mengerti bahwa semut-semut tersebut hendak menyeberangi sungai, namun tidak ada sarana satupun untuk menyeberang, lalu Baharuddin mengambil sepotong kayu yang cukup panjang kemudian diletakkan melintang diatas sungai, sehingga bisa menjadi jembatan bagi semut-semut tersebut.

Peristiwa ini membuat masyarakat heran, walaupun Beliau akan bertarung dengan Kejabang, masih sempat-sempatnya menolong semut-semut yang kecil dan tidak berharga. Pada waktu itu, warga menanyakan untuk apa Beliau menghabiskan waktu mengurusi semut, padahal diseberang sana sudah menunggu Kejabang yang siap membunuh atau menjadikannya budak. Pertanyaan tersebut Beliau jawab bahwa setiap orang harus mencintai dan menyayangi sesama makhluk hidup, termasuk semut-semut tersebut. Begitulah cara Beliau mengajarkan pada masyarakat agar mempunyai sifat cinta kasih terhadap semua makhluk, jangankan terhadap manusia, terhadap semutpun hendaknya diperlakukan dengan kasih sayang.

Sesampai di Tebat Limau yang telah dipenuhi oleh masyarakat yang ingin menyaksikan pertarungan, telah menunggu pula Kejabang dengan segala macam senjata pusaka andalannya. Menghadapi semua itu, dengan tenang tanpa menunjukan rasa khawatir atau takut, Baharuddin menawarkan suatu cara untuk melakukan pertarungan dengan tidak perlu mengadu kekuatan fisik, melainkan cukup menebak semua ilmu kesaktian dan kedigdayaan yang dimiliki Kejabang. Dengan ketentuan apabila Baharuddin mampu menjelaskan seluruh nama senjata pusaka, mantra, atau jampi-jampi dan darimana Kejabang memperolehnya, serta ilmu apa yang dapat mengalahkan seluruh kesaktiannya, maka Baharuddinlah yang dianggap sebagai pemenang. Sebaliknya apabila tidak mampu, maka Baharuddin harus menjadi budak Kejabang seumur hidup.

Tawaran Baharuddin tersebut, sudah tentu diterima oleh Kejabang, karena dipikirnya tidak mungkin Baharuddin bisa menebak semua ilmu kesaktiannya, mengingat Baharuddin selama ini tidak pernah memperlihatkan sikap jantan sebagaimana yang ditunjukkan oleh seorang laki-laki. Disamping itu tampak Baharuddin datang tanpa satupun senjata.

Setelah disepakati dan disaksikan banyak orang, lalu Baharuddin menjelaskan satu persatu ilmu kesaktian yang dimiliki Kejabang berikut penangkalnya serta asal usul seluruh ilmu yang dimilikinya. Mendengar penjelasan secara rinci tanpa ada yang ketinggalan sedikitpun, Kejabang berpendapat bahwa ilmu yang dimiliki oleh Baharuddin jauh lebih tinggi dari ilmu kasaktian yang dimilikinya adalah tidak mungkin mengalahkan Beliau. Oleh karena itu, Kejabang mengaku kalah dan menyatakan bersedia menjadi budak bagi Baharuddin.

Kendati telah memenangkan pertarungan, Baharuddin tidak menghendaki Kejabang menjadi budak bagi dirinya, melainkan beliau hanya meminta agar seluruh budak-budak yang berada dibawah kekuasaan Kejabang supaya dibebaskan dan diberlakukan sebagai anggota keluarga dan tetap berada dibawah naungan Kejabang. Keputusan dan Kebijakan yang diberikan oleh Baharuddin itu, telah membuka mata hati Kejabang dan masyarakat sekitar serta menyadarkan mereka bahwa sikap memperbudak sesama manusia dan kebiasaan melakukan pertarungan itu bukanlah suatu sikap yang baik. (Dimasa selanjutnya Puyang Kejabang ditunjuk sebagai anggota Perwali 4 di dalam Lembaga adat Lapik 4 Merdike 2).

Baca Juga  Gila !!! Di Pagaralam Harga Gas Melon Tembus 30.000 Rupiah Pertabung

Sejak peristiwa itu, nama Baharuddin semakin melegenda dikalangan masyarakat Besemah, betapa Beliau dalam waktu yang sangat singkat berhasil menaklukan tokoh yang sangat ditakuti di seluruh tanah Besemah, dan didalam kemenangan tersebut, Beliau tidak menghina lawan yang dikalahkan, justru mengangkatnya dalam suatu tempat terhormat.

Selanjutnya, Baharuddin lebih leluasa mengetahui seluk beluk masyarakat Besemah serta kepercayaan yang dianut oleh mereka karena kehadiran Beliau di seluruh pelosok Besemah disambut baik dan penuh hormat. Kendati demikian, Beliau tidak begitu saja gegabah mengatur masyarakat secara nyata atau menyebarkan ajaran agama Islam, karena akan timbul kesan bahwa Beliau hendak merubah kepercayaan yang telah mereka anut secara turun temurun. Akhirnya melalui dialog-dialog, Beliau faham bahwa kunci dari kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adalah terletak di puncak Gunung Dempo, yang dianggap tempat bersemayam roh-roh nenek moyang mereka dan ditabukan bagi siapa saja untuk mendaki ke puncak Gunung Dempo.

Untuk menghapus kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, dan merubahnya dengan cara yang arif dan bijak dengan kesan tidak menghina kepercayaan masyarakat, lalu Baharuddin atau Puyang Awak memberitahukan pada masyarakat bahwa Beliau bermaksud mendaki ke Puncak Gunung Dempo untuk dapat bertemu dengan roh-roh nenek moyang yang bersemayam disitu, seolah-olah Beliau percaya kalau roh-roh tersebut berkumpul disitu. Rencana Puyang Awak sudah tentu menimbulkan kegemparan, karena mereka berpendapat bahwa Puyang Awak akan hilang dan tidak mungkin dapat kembali sebagai manusia karena dikutuk roh-roh nenek moyang tersebut.

Dari Desa Perdipe, Gunung Dempo tersebut memang dapat terlihat dengan jelas, sehingga Beliau dapat mengamati lewat daerah mana saja agar perjalanan menuju puncak tidak tersesat. Waktu itu, daerah sekitar Gunung memang belum terjamah oleh tangan manusia, serta masih banyak berkeliaran binatang buas. Tanpa ragu Puyang awak langsung mendaki ke puncak gunung dan memerlukan waktu beberapa hari. Setelah tiba di puncak, Beliau mendirikan pondok tempat beristirahat dan berdiam disitu sendirian untuk waktu beberapa lama.

Dipinggir telaga, ada sebuah batu besar datar yang menjorok ke telaga, arahnya persis menghadap ke kiblat. Batu tersebut dijadikan oleh Puyang Awak untuk menjalankan ibadah shalat dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Sambil memohon petunjuk bagaimana meng-islamkan masyarakat Besemah secara baik tanpa penolakan dari masyarakat setempat. Selama 40 hari Beliau berkhalwat di Puncak Gunung Dempo, dan setelah mendapat petunjuk yang terang dan rumusan yang benar, Beliau turun kembali ke Desa Perdipe dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. (sampai saai ini, batu datar yang menjorok diatas telaga di Puncak Gunung Dempo tempat Puyang Awak melakukan ibadah shalat dan pondok tempat Beliau beristirahat, dibuat seperti makam dan sering diziarahi orang).

Kedatangan Puyang Awak dari Puncak Gunung Dempo tanpa kurang suatu apapun, menimbulkan keheranan masyarakat Besemah. Dalam kesempatan yang baik, Beliau menyampaikan suatu pesan kepada masyarakat Besemah, yaitu ada suatu pesan yang diperolehnya sewaktu bertemu dengan roh-roh nenek moyang suku Besemah, yang bunyinya : Bahwa diantara seluruh Puyang yang berada dipuncak Gunung Dempo, ada satu Puyang yang kedudukannya lebih tinggi dari Puyang-Puyang lainnya. Kekuasaan Puyang yang satu itu sangat besar dan semua puyang tunduk pada-NYA. Bahkan seluruh jagat raya dan seluruh isinya adalah diciptakan seluruhnya oleh Puyang yang satu itu. DIA disebut PUYANG NJADIKA JAGAT (ALLAH SWT).

Puyang Njadikah Jagat ini menyampaikan pesan kepada seluruh manusia sebagai berikut :

PESAN PUYANG NJADIKA JAGAT :

– Bekelaway bemuanai, seanak bujang seanak gadis, apit juray, tunggal juray.
– Apit dusun, apit rurah, seruguk sekurung kampung, sejagat sebale raye, negakkah Ganti Nga Tungguan.
– Lughus tali belandar papan.
– Janji nunggu kate betaroh.
– Utang mbayar piutang tanggapi.
– Ndepat mbalik, rame beghageh.
– Ndek ughang ndek ughang, ndek dighi ndek dighi.
– Berangkekalah pedang, siangilah jalan ke ayik.
– Pacak ulak di ulak’i pacak jangan dijangani.
– Seati serupukan sepincang sepejalanan.
– Serasan sekundang seghase sepenanggungan.
– Seghepat mbak li sukat seghincung mbak li tabung.
– Mbak li uwi pengarang rakit, timbul tenggelam same same.
– Ndek kecik nurut, ndek besak ngalah.
– Ndek mude ngikut, ndek tue ngipat.
– Kecik besak lanang betine, iluk jahat same meghase.
– Ndak calak, ndak beganti, ndak melawan bekenceghan.

Diambil dari http://Jeme Kite.com

Tags

Related Articles

2 Comments

  1. Pagaralam online.ini bagus beritanya tidak monoton,bahasanya mudah dimengerti dan dipahami oleh orang lain diluar wilayah Palembang ,beritanya berbobot,istilah 2yang terdapat di dalam beritanya pun gampang di pahami tidak ada kesalahan kata yang berakibat kesalahan arti seperti berita2 oline daerah lainnya.maju terius Pagaralam online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close