HEADLINEJURNALIS WARGANASIONALPEMERINTAHAN

Pengamat : Pilgub Sumsel Ketat, Cawagub Penentu Kemenangan


PALEMBANG—Pengamat politik Sumsel, DR Tarech Rasyid memprediksi Pilgub Sumsel 2018 akan berlangsung ketat dan menarik. Pasalnya, meskipun berdasarkan sejumlah hasil survey menunjukkan bahwa H. Herman Deru lebih unggul, namun secara umum peta kekuatan masih cukup berimbang, antara 4 tokoh utama, yaitu Herman Deru, Ishak Mekki, Dodi Reza Alex dan Syahrial Oesman.

“Melihat peta politik seperti yang disajikan banyak survey, maka kunci kemenangan ditentukan oleh figur calon wakil gubernurnya. Artinya, calon wakil gubernur harus mampu memberikan kontribusi suara atau elektoral yang signifikan untuk mendongkrak elektablitas pasangan calon,’’ papar Tarech Rasyid ke sejumlah awak media di kantor Political Mapping Research and Consulting (Polmapp) di Palembang, Selasa (19/9)

Tarech mengatakan, dari banyak tokoh yang mendaftar di partai politik dan saat ini sedang gencar bersosialisasi, hanya 5 tokoh saja yang serius nyalon gubernur, sisanya tampaknya hanya akan maju sebagai calon wakil gubernur (cawagub), yaitu Mayjen TNI (Purn) Iskandar Sahil (mantan Pangdam II Sriwijaya), Giri Ramanda Kiemas (Ketua DPD PDIP Sumsel), Eddy Santana Putra (mantan Walikota Palembang), Mawardi Yahya (mantan Bupati Ogan Ilir), M. Irwansyah (Walikota Pangkal Pinang ), Sarjan Tahir (politisi Partai Demokrat), Riduan Effendi (mantan Walikota Lubuklinggau) dan Febuarahman (Ketua DPW Perindo Sumsel).

Baca Juga  Eddy Santana Ajak Forum RT Menangkan HDMY

“Sampai saat ini belum ada bakal paslon yang berani menyatakan diri berpasangan. Saya menduga hal ini disebabkan para bakal calon gubernur agak pusing dan sangat hati-hati dalam menentukan siapa bakal cawagub yang tepat. Sebab salah pilih pasangan akan berakibat fatal dan berujung kekalahan,’’ tegas dosen ilmu politik di UIN Raden Fatah dan UIBA Palembang ini.

Menurut Tarech, dari sejumlah bacawagub yang beredar, memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Namun umumnya bacawagub sampai saat ini popularitas dan elektabilitasnya masih sangat rendah. Namun demikian, popularitas dan elektabilitas tersebut dapat dikejar dengan kerja-kerja politik yang baik mengingat Pilgub Sumsel masih sekitar 10 bulan lagi.

“Para bakal calon wakil gubernur harus kerja keras untuk menaikkan popularitas dan elektabilitasnya agar dilirik parpol dan para calon gubernur. Sebab, parpol dan cagub akan berebut memilih cawagub yang paling potensial untuk menang,’’ jelas Doktor Politik jebolan Unpad ini.

Tarech mengingatkan agar para cagub hati-hati dan jangan gegabah dalam menetapkan pasangan. Sebaiknya sebelum ditetapkan, para cagub harus melakukan survey dan membuat simulasi-simulasi pasangan yang paling ideal dan diterima masyarakat. Idealnya pasangan harus saling menguatkan dan mendongkrak elektabilitas, bukan sebaliknya.
“Bisa saja cagubnya bagus, namun cawagubnya bermasalah dan tidak diterima publik karena mempunyai rekam jejak yang tidak baik. Ini sangat merugikan,’’ tandas pria yang dikenal sebagai tokoh aktivis ini.

Baca Juga  Tak Pernah Diajak Rembuk, Fadli Cs Minta Penjelasan Pemkot Soal Besh Hotel

Geopolitik menentukan

Selain elektabilitas, kata Tarech, formasi geopolitik pasangan calon gubernur/wakil gubernur juga akan menjadi faktor penentu kemenangan dalam Pilgub 2018 mendatang. Formasi pasangan idealnya harus mencerminkan representasi daerah yang berbeda , misalnya formasi pasangan yang mewakili daerah Komering- Musi, Komering- Besemah, Komering- Lematang atau Musi- Lematang.

Disebutkan, figur Herman Deru , Ishak Mekki dan Syahrial Oesman mempresentasikan suku Komering Raya, sebaiknya mengambil cawagub berasal dari Musi, seperti Iskandar M Sahil atau dari Besemah yaitu Aswari Rifai atau Giri Ramanda Kiemas yang mewakili suku Lematang. Demikian pula Dodi Reza Alex yang berasal dari Musi sebaiknya mengajak pasangan figur yang berasal dari daerah Komering Raya seperti Mawardi Yahya, Eddy Santana Putra dan Febuarahman atau Besemah yaitu Aswari Rivai atau Giri Ramanda Kiemas dari suku Lematang.

“Sebaiknya menghindari perkawinan politik satu rumpun suku atau daerah, karena dikhawatirkan tidak akan menambah efek elektoral atau menambah suara dukungan,” ujar Tarech.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close