Panggarbesi Bukan Cuma Milik Tanjong Sakti!

PAGARALAM ONLINE – Seperti halnya nama marga bagi orang Batak,saat ini mungkin ada ratusan ribu bahkan mungkin juga jutaan orang yang di belakang namanya tertulis Panggarbesi (kalau tak percaya ketik nama tersebut di google dan lihat berapa banyak orang yang nama belakangnya Panggarbesi)

Bagi penyandang nama belakang Panggarbesi seperti merasakan kebanggan tersendiri sebab nama tersebut adalah sakral bagi mereka lantaran nama itu mencerminkan dari mana mereka berasal.

Bagi seluruh orang yang mengakui dirinya sebagai keturunan Puyang Panggarbesi baik yang langsung menyematkan nama Panggarbesi di belakang namanya depannya seperti Riu Badai Panggarbesi,Ujang Panggarbesi,Media Panggarbesi,Hengki Panggarbesi maupun yang tidak,tentu meyakini bahwa sosok leluhurnya ini adalah sosok yang hebat sakti mandra guna.

Di gali dari cerita “oral” (cerita yang di sampaikan dari mulut-mulut mirip dongeng utamanya dari ‘Trah Panggarbesi’) di katakan bahwa sosok Panggarbesi adalah seorang lelaki yang kebal terhadap segala bentuk senjata termasuk senjata tajam lantaran mulai dari tulang kaki,lengan hingga punggungnya keras seperti besi kalau di era abad pertengahan mungkin bisa di gambarkan bahwa sosok Panggarbesi ini seperti seorang ksatria yang memakai baju zirah sehingga kebal senjata.

Lalu kemudian bagaimana beberapa kawasan di seputaran kota Pagaralam,Kabupaten Lahat bahkan Bengkulu mengaku bahwa mereka ini adalah keturunan sosok yang namanya Panggarbesi?

Perlu di ketahui,beberapa wilayah yang mengklaim dan mengakui dirinya sebagai keturunan langsung dari Panggarbesi di antaranya adalah dusun Lubuk Tabun,Tanjung Batu/Benteng dan Sindang Panjang Kecamatan Tanjung Sakti serta Dusun Sadan Kecamatan Jarai ada dalam wilayah Kabupaten Lahat,lalu ada juga Kecamatan Alas Maras Kabupaten Seluma dan juga ada beberapa daerah lainnya.

Diceritakan bahwa puyang Panggarbesi ini adalah sosok pengembara dan juga sosok pendekar juga ahli siasat juga dia (Panggarbesi_red) punya 9 nama panggilan sakral yang hanya boleh di ucapkan oleh keturunannya langsung,hal ini bisa di dengar dari cerita dongeng rakyat Besemah yang di sebut “Andai-andai” salah satunya tentang kisah puyang-puyang seperti kisah pertempuran puyang Tongkok yang meminta bantuan Puyang Panggarbesi untuk membalaskan dendam kepada pamannya yang telah membunuh ayahnya.

Di katakan salah seorang penggiat adat Besemah yang juga bekerja di Lembaga Adat Besemah, Sattrarudin Djik Olah kepada Pagaralam Online beberapa waktu lalu,diyakini bahwa Panggarbesi adalah anak ke 4 dari Ratu Singe Bekurung yakni salah satu raja yang memerintah Kedatuan Besemah kala itu,karena beranjak dewasa lalu dia (Panggarbesi_red) membuka lahan pemukiman ke arah Besemah Ulu Mannak yang kini lebih dikenal sebagai kecamatan Tanjung Sakti Kabupaten Lahat dan menjadikan beberapa dusun di antaranya Benteng/Tanjung Batu,Lubuk Tabun dan Sindang Panjang,lalu kemudian merantau lagi menjadikan dusun Sadan Kecamatan Jarai dan juga dusun Alas Maras Kecamatan Seluma Bengkulu.

Bagi para keturunan Puyang Panggarbesi yang tersebar di beberapa kawasan tersebut meyakini bahwa setelah menjadikan beberapa kawasan di atas,puyang Panggarbesi kemudian “Silam” yakni pergi ke langit dan tak kembali lagi.Namun untuk menghormati leluhurnya ini para keturunannya kemudian membuat “makam” sebagai peringatan atas leluhur mereka ini bahkan makam ini tersebar di beberapa tempat sesuai tempat kedudukan anak cucunya beranak pinak seperti makam tinggi di dusun Sindang Panjang yang selalu ramai di kunjungi para keturunannya untuk sekedar berziara atau berkumpul sesama keturunan puyang Panggabesi.

Ada yang menarik mengenai sosok puyang Panggarbesi menurut pengalaman anggota Tim Ekspedisi Bukit Barisan yang beranggotakan Korp Pasukan Khusus (Kopassus),Batalion Raider Palembang,Kosrtad serta para peneliti dari IPB dan ITB saat mendaki puncak Dempo pada 2011 lalu.Dimana anggota Kopassus yang tergabung dengan tim flora/fauna di antaranya Sersan PW Lasse yang berasal dari Nias beserta anggota timnya yang lain saat di puncak Dempo tersebut di datangi oleh 17 orang tua yang memperkenalkan diri mereka sebagai para puyang Tanah Besemah yang bersemayam di puncak Dempo.

Dalam pengalamannya itu,Sersan PW Lasse beserta anggota timnya yang lain menceritakan bahwa mereka masing-masing bersalaman dengan para puyang tersebut di antaranya ada yang menyebut diri mereka Raje Nyawe dan Panggarbesi.Namun dari 17 orang tua tersebut hanya 1 orang yang tidak mau di ajak bersalaman yakni seseorang yang duduk di atas batu besar yang memperkenalkan dirinya sebagai Panggarbesi lantaran mengatakan bahwa urusan antara para pendaki ini (tim ekspedisi bukit barisan_red) dengan dirinya tidak ada hubungan dan bukan urusan dia (Panggarbesi_red).

Anggota tim usai turun dari puncak gunung Dempo tersebut lalu mengadakan acara ritual memotong 17 ekor kambing sebagai penghormatan atas pengalaman gaib mereka bertemu para puyang ini.

Lepas dari siapa sebenar sosok Panggarbesi lantaran tidak adanya data fisik semacam tulisan yang menjelaskan siapa sebenarnya sosok ini dan hanya berdasarkan cerita oral turun temurun.Para keturunan Panggarbesi yang kini tersebar di penjuru wilayah bahkan banyak sekali yang tidak saling mengenal satu sama lain,begitu melihat nama belakang itu pada seseorang langsung menyadari bahwa mereka adalah saudara yang berasal dari keturunan yang sama dari sosok yang bernama Puyang Panggarbesi.

Related posts

Leave a Comment