Panen Kopi Tahun Ini Banyak Yang Gagal,Pagaralam Terancam Paceklik Panjang

PAGARALAM ONLINE – Mestinya bulan April hingga Juni menjadi waktu yang sangat dinantikan dan menggembirakan bagi warga Pagaralam dan sekitarnya terutama yang berpropesi sebagai petani kopi.Karena di rentang bulan ini,mereka akan disibukkan dengan kegiatan memanen buah kopi yang menjadi mata pencaharian utamanya.

Namun ternyata ditahun 2017 ini,harapan serta kegembiraan ini para petani kopi Pagaralam nampaknya hanya sebatas angan saja,lantaran panen kopi di tahun ini tidak sesuai dengan harapan warga sehingga kota Pagaralam terancam paceklik panjang.

Kepada Pagaralam Online salah seorang petani kopi mengatakan bawasanya hasil panen kopi miliknya tahun ini memang jauh dari harapan serta ekspektasinya,dikarenakan biji buah kopi yang dipanen ternyata kurang bernas dan biji buahnya banyak rontok.

“Meleset nian musem kawe taon ini,ini bae perkirean gi dapat separu sandi taon-taon dulu,pasale ijat kawe banyak ye ampe”ujar Ani (42) warga Dusun Talang Sawah Kelurahan Bangunrejo Pagaralam Utara dalam dialeg Besemah (22/5)

Senada Gunawan (38) warga setempat menuturkan yang sama soal hasil panen buah kopinya yang juga kurang di tahun ini.

“Semuah pemilik kebun kopi di dusun kami memang mengeluh karena hasilnya jauh berkurang tahun ini,”ujar Gunawan yang berkebun di kawasan Ataghan Ayek Cawang Kelurahan Curghup Jare.

Baik Ani maupun Gunawan menngungkap bahwa andaikata saja areal perkebunan ditanami 2000 batang kopi,maka hasil panen tiap tahun normalnya berkisar 1 hingga 1,2 ton biji kopi.Namun ditahun ini dengan jumlah batang kopi yang sama hasilnya turun hingga 50 persent menjadi 500 hingga 600 kilogram saja.

“Sudah dapat dibayangkan kebun kami untuk musim kopi tahun ini tinggal menghasilkan setengah saja,kalau biasanya 2000 batang bisa dapat 1 ton lebih sedikit,tapi di tahun ini mungkin hanya 500 atau paling hebat 600 kilo saja,”keluh keduanya.

Lanjut Gunawan dan Ani,menyikapi hasil panen kopi yang turun di tahun ini,membuat beban hidup mereka semakin berat,karena di tahun mereka harus mengeluarkan biaya banyak diantara untuk menghadapi tahun ajaran baru persekolahan dan lebaran idul fitri.

“Berat memang kalau musim kopi gagal tahun ini,apalagi ini mau menghadapi tahun ajaran baru sama lebaran pasti butuh biaya banyak,”pungkasnya keduanya.

Tak hanya para petani kopi saja yang mengeluhkan kondisi ini,namun para pedagang di kawasan sentral bisnis Pasar Dempo Permai maupun pasar Nendagung merasakan imbasnya.Karena omzet penjualan mereka pun otomotis ikut menurun.

Seperti yang di tuturkan Hj Royati penjual daging ayam yang berjualan di depan Masjid Raya yang mengeluhkan sepinya pembeli di kawasan Pasar Kambing tempat dia dan rekannya yang lain menggelar dagangan.

“Sepi pembeli disini,padahal ini lagi musim kopi,biasanya kalau sedang musim kopi sehari bisa jual 20 sampai 40 kilo daging,tapi sekarang untung bisa jual 10 paleng banter 15 kilo,”keluhnya (22/5)

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.