Nitizen persoalkan runway camping di Bandara Atung Bungsu

PAGARALAM ONLINE—Kontroversi kegiatan Runway Camping atau kamping di landasan pacu Bandara Atung Bungsu terus berlanjut. Setelah sebelumnya diprotes keras oleh mantan Walikota Pagaralam, H. Djazuli Kuris karena melanggar UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, sejumlah nitizen mencemooh kegiatan tersebut. Para nitizen menilai panitia tidak mengerti aturan berkegiatan di runway bandara.

Ramainya tanggapan nitizen ini akun  Facebook (FB) Taufik Hidayat memposting berita berjudul Mantan Wako Protes Camping di Runway Bandara Atung Bungsu.  Beberapa saat, postingan tersebut ramai mendapat tanggapan . Akun Pinggala Boy berkomentar Gawat!! Aturan dilanggar kalu lok ini..  Jangankah jeme katah, ade biawak lalu bae cepat cepat diusir ame melintas di runway. Apelagi inilah ribuan jeme tidok di sane..anye cengki rami nah cumpok atung bungsu belas aghi ee.

.Akun Irwansyah Kahe berkomentar gawatt.  Akun Mas Yoppie berkomentar akhirnya..protes diluncurkan setelah acara selesai “kepingkel…pingkel”.

Akun DeLta Gelenx Gelenx berkomentar KACAHEE… Akun Akbar Zambrullah berkomentar aduh gawat ini, ngape lah udem kegiatan empai naek beritahe, aturan sebelom kegiatan kemaghi beritahe naek mangke rami,wkwkwkwk

Akun Hilda Dun berkomentar Sape nak protes2lah, tp kami di perantauan ikut senang, pengobat ghindu ngah tanah klhiran.  Akun Benny Animan berkomentar Dek Ngerti Aturan…? Memalukan.

Akun Eddie Nian berkomentar Tentu kita sangat mendukung sekecil apapun kegiatan atau event untuk kemajuan pariwisata di Kota Pagaralam ini. Justru kita berterima kasih karena ada pihak benar2 melakukan ini dengan gerakan nyata. Tapi juga sangat disayangkan kalau memang sampai melanggar aturan? Apalagi aturan internasional. Perlu klarifikasi apa betul pihak otoritas bandara sebagai penyelenggara operasional bandara telah mengizinkan kegiatan ini?Aturan tetap aturan yang memang harus kita taati dan patuhi tanpa ada toleransi.

Akun Nasiruddin Posco berkomentar tikus saja dilarang melintas, bagaimana pihak otoritas bandara bisa memberikan izin dengan kegiatan yang lain.

Akun Besh Pagar Alam berkomentar  @All : yang ingin tahu masalah perizinan kegiatan ini, kami dengan senang hati mengundang rekan2 wartawan untuk pers conference mengena surat izin hingga NOTAM yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan RI untuk kegiatan ini. …#Pagaralam MoveOn.

 

Seperti diberitakan, kegiatan Runway Camping di Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam mendapat protes keras dari mantan Walikota Pagaralam, H. Djazuli Kuris dan sejumlah elemen masyarakat Kota Pagaralam. Pasalnya, kegiatan tersebut tidak tepat sasaran dan melanggar Undang Undang No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

“Saya sudah mengingatkan kepada pihak terkait  untuk melarang camping di runway atau landasan pacu Bandara Atung Bungsu.. Kegiatan tersebut melanggar UU dan berbahaya,” tegas Djazuli kepada Pagaralam Online Selasa (25/10).

Menurut Djazuli, sebagai inisiator pembangunan Bandara Atung Bungsu, dirinya mempertanyakan mengapa pihak otoritas Bandara Atung Bungsu memberikan izin kepada pihak panitia yaitu sebuah Event Orginizer untuk mengadakan kegiatan tersebut.

“Saya meminta aparat terkait untuk membaca dan mempelajari UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Coba pelajari lagi ,’’ tegas Djazuli.

Menurut Djazuli, meskipun di hari-hari tententu tidak ada jadwal penerbangan di Bandara Atung Bungsu, namun tidak diperbolehkan ada kegiatan yang berpotensi menggangu (obscale) di objek vital negara tersebut. Mengingat Bandara Atung Bungsu sudah tercatat secara nasional dan internasional. “Bayangkan jika ada pesawat yang mendadak harus mendarat di Bandara Atung Bungsu karena sesuatu hal, namun ternyata tidak bisa didarati, Tentu akan sangat berbahaya,” tandasnya.

Pendapat senada disampaikan pakar perhubungan yang juga mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang, H Syaidina Ali. Menurutnya, UU telah mengatur larangan tentang melakukan kegiatan tertentu di runway yang dapat menghalangi pesawat untuk melakukan take off dan landing, “Tidak boleh ada kegiatan apapun bentuknya di runway yang dapat menghalangi pesawat karena akan membahayakan,’’’ tandasnya.

Menurut Syadina, bandara termasuk katagori obyek vital yang aturannya sangat ketat dan tidak boleh sembarang melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas penerbangan. Sehingga dibutuhkan pengawasan yang sangat ketat oleh otoritas bandara yang telah diberikan kewenangan oleh pemerintah.

Berikut petikan Pasal 210 UU Penerbangan

“Setiap orang dilarang berada di daerah tertentu di bandar udara, membuat halangan (obstacle), dan/atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandar udara.”

Seperti diketahui, komunitas Pagaralam Move One menggelar acara bertajuk October Fest di Areal Bandara Atung Bungsu, 22 sampai 23 Oktober 2016 lalu . Salah satu acara dalam kegiatan tersebut  adalah Runway Camping yang diklaim baru pertama kali digelar di dunia. Acara juga diramaikan dengan  aero modeling,lomba fotografi dan rally wisata.

Menurut laman resmi facebook Besh Hotel Pagaralam sebagai salah satu sponsor kegiatan ini. Acara Oktober Fest di ikuti seribu orang lebih peserta camping,lima puluh orang peserta fhotografi,tiga belas peserta aero modeling dan tujuh puluh sembilan peserta rally wisata.

Sementara itu berbagai pendapat pro dan kontra bermunculan di masyarakat terkait kegiatan ini,ada yang mendukung namun banyak pula yang mempertanyakan. Seperti yang di tuturkan Herian warga Dusun Pagaralam.  Dia  mempertanyakan kenapa bisa acara yang mengumpulkan banyak sekali orang di gelar di areal bandara seperti landasan pacu pesawat atau Runaway Bandara Atung Bungsu. Padahal area tersebut yang dia ketahui adalah area steril yang tidak boleh sembarangan orang bisa memasukinya.

“Saya sendiri heran kok bisa ada acara camping di areal landasan pacu pesawat,apa itu boleh?,”tanyanya.

Sejumlah elemen masyarakat Pagaralam sedang menggodok kemungkinan kegiatan Runway Camping ini untuk dilaporkan kepada pihak kepolisian. Mengingat kegiatan tersebut dinilai telah melanggar UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Untuk di ketahui berdasarkan Undang – Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2009 tentang Keselamatan Penerbangan, Pasal 421 menyebutkan bahwa “Setiap orang berada di daerah tertentu di bandar udara,tanpa memperoleh izin dari otoritas bandar udara sebagaimana dimaksud Pasal 210 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan pada Pasal 425 menyebutkan ” Setiap orang yang melaksanakan kegiatan di bandar udara yang tidak bertanggung jawab untuk mengganti kerugian atas setiap kerusakan pada bangunan dan/atau fasilitas bandar udara yang diakibatkan oleh kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 421,dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak

1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
 

 

Related posts

Leave a Comment