Mengkritisi Program 1 Juta Stek Kopi.

PAGARALAM ONLINE – Setelah sebelumnya program Rp 1 miliar satu kelurahan batal terealisasi karena pemerintah pusat lebih dulu mengucurkannya melalui Kepres Dana Kelurahan tahun 2018,sekarang giliran program 1 Juta Stek Kopinya ALFAD juga ikut di kritisi.

Sebagaimana di ketahui,mayoritas masyarakat kota Pagaralam bermata pencaharian sebagai petani utamanya petani kopi dimana terbanyak areal perkebunan kopi warga berada di 3 kecamatan mulai Kecamatan Dempo Utara,Dempo Tengah dan Dempo Selatan dan sebagian lagi di Kecamatan Pagaralam Utara.

Secara ekonomi kota Pagaralam sangat bergantung pada komuditas ini (Kopi_red),dimana daya beli masyarakat sangat bergantung dari banyak sedikitnya hasil panen kopi pada tahun tersebut di tambah harga jual kopi di tingkat pengepul sehingga sering kali mengakibatkan masyarakat kota Pagaralam di landa musim Paceklik dan otomatis roda perekonomian daerah melambat dan daya beli masyarakat menurun drastis di sebabkan menunggu masa panen kopi yang setahun sekali.

Berbagai upaya di lakukan oleh masyakat untuk mengatasi masalah ini (Paceklik_red),mulai beralih profesi,variasi tanaman dengan cara tumpang sari,maupun memgubah pola atau jenis tanaman.

Salah satu metode meningkatkan hasil panen Kopi yang warga lakukan secara mandiri yakni dengan cara stek sambung tunas yang di yakini mampu mendongkrak hasil panen namun hal ini masih bergantung pada sumber bibit/tunas maupun kondisi cuaca.

Untuk membantu para petani dalam hal ini (meningkatkan hasil panen kopi dan perekonomian warga_red),Walikota/wakil Pagaralam saat Pilkada lalu mencanangkan program 1 juta stek kopi bagi masyarakat dimana menurut informasi program ini dalam waktu dekat akan tersalur melalui dinas terkait dengan nilai miliaran rupiah.

Digali dari berbagai sumber,perbanyakan hasil panen dengan teknik sambung pucuk oleh petani di lakukan dengan cara menyambungkan cabang tanaman kopi yang berasal dari indukan pohon kopi yang berbuah baik di sambungkan dengan pucuk/tunas tanaman kopi yang biasa atau di kenal dengan teknik Klon.Dimana dengan menerapkan teknik ini pohon kopi yang sudah berumur dan kurang menghasilkan buah dalam tempo 1 tahun setelah di lakukan penyetekan akan menghasilkan buah yang lebih banyak (*hasil ini tetap di pengaruhi oleh faktor cuaca dan perawatan tanaman).

Teknik perbanyakan hasil panen berikutnya adalah teknik sambung pucuk akar yakni dengan cara penyambungkan tunas pokok tanaman kopi dengan dahan yang berasal tanaman unggul yang kemudian di sambung sehingga tumbuh akar dan setelahnya di pindahkan kedalam polybag untuk di tanaman ke lahan perkebunan yang ada dimana dengan menerapkan teknik ini hasil yang di dapat tetap menunggu waktu 3 hingga 4 tahun untuk hasil yang maksimal (sumber data www.alamtani.com website yang khusus mengedukasi soal pertanian dan perkebunan)

Namun,sayangnya program yang diluncurkan oleh pemerintah daerah saat ini bukan tidak menuai persoalan.

Peli (66) petani kopi warga dusun Pagardin Kecamatan Dempo Utara memintah pemerintah daerah mempertimbangkan ulang program bantuan bibit stek kopi bagi petani,sebab bibit yang akan di bagikan tersebut tidak diketahui asalnya yang berkaitan dengan hasil yang di harapkan.

“Selama ini kami melakukan penyetekan berasal dari indukan pohon kopi yang kami bisa lihat sendiri hasilnya yang biasanya kami cari sendiri di kebun sekitar desa kami atau dari petani yang sudah berhasil mengembangkannya dimana indukan itu memang berbuah sangat baik,jadi jika kami menerima bantuan bibit stek yang kami tidak tahu dari mana asalnya tentu saja kami tidak mau pasalnya hasilnya pun tidak terjamin,”ujarnya sembari mengatakan sebaiknya pemerintah memberikan bantuan pupuk atau perawatan maupun mesin pengolahan kopi (23/06)

Senada,Toni (57) warga Nendagung mengatakan,selama ini petani sudah melakukan penyetekan secara mandiri namun jika yang di maksud bantuan stek akar dirinya juga agak berat menerimanya,sebab untuk penanaman bibit tersebut memerlukan lahan perkebunan baru sementara para petani kopi di kota Pagaralam rata-rata telah mempunyai kebun kopi sendiri yang sudah berproduksi walaupun tanaman tersebut sudah berumur tua.

“Kalau bantuan bibit kopi itu wujudnya stek akar maka kami akan kesulitan mencari lahan baru untuk menanam bibit baru itu sebab kami tak mungkin mencabut tanaman kopi kami yang sudah berproduksi itu,selain itu jika menanam bibit baru otomatis interval masa tanam hingga panen akan cukup lama bisa makan waktu 3 sampai 4 tahun kecuali pemerintah kota bisa menjamin atau mensubsidi biaya hidup kami hingga masa panen kopi itu tiba,”ucapnya (23/06).

Petani kopi Pagaralam mengharap jika pemerintah daerah memang serius meningkatkan taraf hidup petani kopi dan masyarakat pada umumnya,mereka menyarankan agar pemerintah kota Pagaralam membentuk suatu badan khusus yang bisa menampung hasil panen kopi petani di samping bantuan alat perawatan ataupun alat produksi pra dan pasca panen,sehingga petani kopi Pagaralam mampu menghasilkan kopi yang berkwalitas dan mempunyai harga dan nilai jual tinggi dan dengan adanya badan khusus bawah naungan pemerintah daerah maka petani kopi dapat terlepas dari jerat tengkulak sehingga taraf hidup dapat meningkat.

Related posts

Leave a Comment