HEADLINENASIONALPESONA PAGARALAM

Mak Beruk Ibu Para Pendaki Dempo Tutup Usia

PAGARALAM ONLINE – Bagi para Rimbawan atau para pendaki Dempo, tentu mengenal sosok Mbak Beruk yang sudah dianggap ibu bagi para rimbawan ini. Wanita yang bernama asli Sunarti binti Sugiono ini kemarin Jumat (21/10/2016) tutup usia dalam umur 73 tahun.

Nampak karangan bunga bertuliskan ucapan duka berjejer dihalaman rumahnya di Dusun Sukananti Kelurahan Dempo makmur Kecamatan Pagaralam Utara atau persisnya di depan Pabrik Teh PTPN VII gunung Dempo yang kebanyakan dari organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) mulai dari Mapala Unsri,Mapala Muhammadya,Mapala unib dan dari organisasi pecinta alam lainnya.

Kepergian Mbak Beruk yang sudah dianggap ibu kandung oleh para rimbawan ini sungguh meninggal duka serta kesan yang mendalam bagi orang-orang yang pernah mengenal dan dekat dengannnya.

Pak Anton (75) suami mak Beruk yang juga disebut Ayah oleh para pendaki ini menuturkan, memang sejak dua tahun terakhir istri tercintanya mengidap penyakit gula darah atau Diabetes,walaupun sudah menjalani pengobatan medis maupun non medis namun ternyata tubuh rentah Mak Beruk sudah tidak mampu lagi melawan penyakit yang dideritanya.

Baca Juga  H Bangun Lubis,Jurnalis Senior Sumsel Gabung Ke Parpol Gelora.

“Jumat kemarin Mak menghembuskan nafas terakhirnya karena apenyakit Diabetes yang dideritanya,dan sudah di kebumikan di Pemakaman Umum Dusun Sukananti gunung Dempo,”ujarnya lirih.

Di kalangan para pendaki Dempo sosok Mak Beruk bukannya hanya dikenal sebagai istri dari Pak Anton sang penjaga Dempo,namun lebih dari itu sosok wanita ini sudah banyak meninggalkan kenangan manis,terutama bagi para pendaki dari luar kota Pagaralam yang sempat menginap dikediamannya di Dusun Sukananti,sebab setiap ada orang yang hendak mendaki Dempo wajib melaporkan kegiatannya kepada Pak Anton untuk didata,dan jika para pendaki ini tiba pada sore atau malam hari maka wajib untuk menginap di rumahnya mak Beruk.

Romi (38) PNS Humas Pemkot Pagaralam menceritakan kenangannya yang pernah dia rasakan bersama mak Beruk. Dimana sekitar tahun 2001 pada saat dirinya masih mahasiswa,dia bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya pernah beberapa kali mendaki Dempo. Karena tiba di kota Pagaralam dari Palembang sudah malam hari,maka berdasarkan aturan mereka harus melapor kedatangan mereka kepada Pak Anton untuk didata. Berhubung waktu yang tidak memungkin untuk mendaki,maka Romi dan rekan-rekannya ditawari menginap dirumahnya dan disarankan mendakinya di keesokan harinya.

Baca Juga  Traffick Light Simpang Manna Ada Yang Tidak Berfungsi, Pengendara Jadi Was-was

Sebagai anak muda Romi biasanya memanggil temannya dengan panggilan “Bro” singkatan dari Brother dalam bahasa Inggris,ternyata ungkapan atau panggilan “Bro” ini juga ditiru oleh mak Beruk namun lapalnya menjadi “Beruk” sehingga menimbulkan kelucuan oleh para pendaki dan hingga saat ini nama “Mak Beruk”pun melekat menjadi panggilannya.

Romi menuturkan sangat kehilangan sosok Mak Beruk yang dia anggap sudah seperti ibu kandung,karena setiap pendaki terutama dari luar kota Pagaralam pasti pernah menginap di rumah Mak Beruk dan berbagi kelucuan dan cerita bersama.

“ Saya pribadi sangat kehilangan sosok mak Beruk yang biasanya membangunkan kita kalau sedang menginap dirumahnya untuk bersiap-siap melakukan pendakian,”ujarnya.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close