HEADLINENASIONALPESONA PAGARALAMSEPUTAR BESEMAH

Mady Lani, tetap keren dengan gitar kepudang

 

PAGARALAM—Masyarakat suku Besemah yang mendiami Kota Pagaralam dan  sekitarnya sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni budaya.  Bahkan, Pagaralam yang terletak di dataran tinggi Gunung Dempo dengan bukit barisannya  dikenal sebagai pusat kebudayaan. Namun seiring perkembangan zaman, banyak seni budaya tersebut sudah ditinggalkan dan terancam punah.

Penggiat seni di Kota Pagaralam, Mady Lani mengungkapkan, sejumlah seni dan budaya yang sudah semakin langka itu, antara lain guritan, tadut, andai-andai, rejung besemah, dan meringit. Selain itu, pakaian adat khas Besemah juga sudah sangat jarang ditampilkan.

“Sangat sedikit orang yang mempelajari dan mempertahankan kesenian khas Besemah ini .Kesenian warisan leluhur ini tergerus oleh arus modernisasi,’’ jelas Mady Lani kepada Pagaralam Online, di Pagaralam, Jumat (16/9)

Menurut Mady Lani, berbagai upaya telah dilakukan para penggiat seni di Pagaralam untuk mencoba mempertahankan dan melestarikan peninggalan adat dan budaya nenek moyang suku Besemah yang mengandung pesan moral yang sangat baik tersebut. Apalagi warisan seni budaya tersebut tidak bertentangan alias selaras dengan ajaran agama yang dianut mayoritas penduduk  di Tanah Besemah.

“Namun support dari pemerintah daerah minim . Sehingga kami kesulitan,’’ ujar pria yang dikenal sebagai penyair ini.

Baca Juga  Aneh,Pemkot Pagaralam Buat Neraca Keuangannya Tak Seimbang.

Mady menjelaskan, dari berbagai warisan seni budaya yang terancam punah tersebut, saat ini dirinya sedang konsentrasi untuk kembali mengangkat salah satunya, yaitu gitar kepudang  yang sudah lama sekali tidak pernah lagi dikenakan. Gitar kepudang adalah ikat kepala khas Besemah yang mrip ikat kepala khas masyarakat Sunda.

.Gitar kepudang dalam bahasa Besemah berasal dari kata gitar yang berarti melilitkan dan kepudang yang artinya lekukan yang menonjol. Lipatan dalam gitar kepudang ini selalu ganjil yaitu 3,5 ,7 dam 9.

“Jumlah  lipatan menunjukkan tingkatan atau strata sosial siapa yang mengenakannya dan tingkat keagungan sebuah ritual acara,” jelas sastrawan Sumsel yang telah banyak menulis puisi ini.

Lipatan 3 di bagian depan, kata Mady, melambangkan 3 alam, yaitu alam rahim,alam dunia, dan alam akhirat . Gitar kepudang ini masih sering dikenakan ketika sistem pemerintahan pesirah masih diberlakukan.

“Para pesirah dan pejabat pemerintahan kala itu selalu mengenakan gitar kepudang dalam acara-acara yang bersifat resmi,’’ ujar pria asli Pagaralam ini.

Dulunya, jelas Mady, gitar kepudang lebih banyak terbuat dari kulit kayu alas perlong. Gitar kepudang asli Besemah awalnya bukan terbuat dari kain tenun songket dan sejenisnya. “Namun dalam perkembangannya, gitar kepudang menyesuaikan dengan kondisi zaman. Agar lebih ringan dan lebih mudah dibuat maka kemudian saat ini bahan gitar kepudang terbuat dari kain yang lebih mudah dimodifikasi,’’ papar cerpenis yang sudah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi ini.

Baca Juga  Demi Rayakan 17an,Pemuda Pagaralam Rela Pertaruhkan Keselamatannya

Untuk kembali mengenalkan gitar kepudang di Pagaralam, Mady  mengajak sejumlah penggiat seni di Pagaralam untuk bersama-sama menggali semua informasi soal gitar kepudang yang sudah lama ditinggalkan dan terlupakan itu. “Saya tidak pernah lelah untuk mengajak siapapun yang peduli tentang seni budaya Besemah. Kota Pagaralam adalah pusat budaya di Sumsel, namun sayangnya tidak banyak yang peduli untuk menggali dan melestarikannya,’’ ujar Mady prihatin.

Dengan segala keterbatasan, kata Mady, dirinya  bertekad  untuk menggali dan mengangkat gitar kepudang khas Besemah ini agar tidak punah. Caranya dengan kembali mengenalkannya, terutama kepada generasi muda.

“Saya sudah diskusi dengan teman-teman yang peduli bagaimana cara melestarikan gitar kepudang ini. Salah satunya adalah dengan sering memakainya. Selain itu  kita akan merancang gitar kepudang dengan disain yang telah dimodifikasi, sehingga bentuknya menarik. Sehingga siapapun yang mengenakannya terlihat gaya dan keren,’’ ujar seniman yang sudah beberapa kali mewakili Sumsel dalam pentas nasional ini.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close