Gunawan : Harus Bangga Menjadi Petani

PAGARALAM- Taraf hidup petani di Kota Pagaralam  yang sebagian  belum sejahtera mendapat sorotan  Ir.H. Gunawan, MT . Menurutnya,salah satu upaya untuk memperbaiki kehidupan petani itu  adalah dengan memperbanyak pembinaan, pendidikan ketrampilan dan bimbingan yang dilakukan secara terus menerus terhadap para petani. Peran PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) harus dioptimalkan agar pertanian di Kota Pagaralam makin maju dan kesejahteraan petani makin meningkat.

“Petani  masih harus terus diperhatikan dan dilakukan pembinaan. Meskipun sebenarnya petani kadangkala  lebih pintar dari insinyur sekalipun. Mereka sudah berpengalaman puluhan tahun mengolah lahan. Namun tetap saja  mereka harus dibimbing, ” kata Gunawan ketika bertemu dengan sejumlah kelompok tani (poktan) di Kota Pagaralam, akhir pekan lalu.

Dialog Gunawan dengan kelompok tani ini memang terjadwal rutin. Tujuannya untuk menyerap  dan mendengarkan aspirasi,keluhan dan kesulitan yang dialami kalangan petani. Pertemuan dilaksanaan secara sederhana dengan penuh kekeluargaan. Sehingga para petani bebas mengeluarkan keluhan dan uneg-unegnya selama ini.

Dalam kesempatan bersilaturahmi dengan kalangan petani tersebut, Gunawan menegaskan sebagai anak seorang petani  dirinya   sangat tahu , mengerti dan dapat merasakan sendiri kesulitan-kesulitan yang dialami para petani. Namun demikian, Gunawan  berpesan  agar para petani merasa bangga dengan profesinya tersebut. Mengingat sumbangsih petani terhadap kemajuan sebuah daerah sangatlah besar. Apalagi Kota Pagaralam mayoritas penduduknya bekerja  di sektor pertanian.

“Tanpa adaanya petani, kita semua tidak bisa makan nasi dan minum kopi setiap hari. Jadi banggalah menjadi petani,” ujar Gunawan disambut tepuk tangan  ratusan petani yang hadir dalam acara tersebut.

Gunawan yang kini menjabat Kasatker Pelaksanaan Jalan Metropolitan Palembang Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini mengatakan, selama ini kalangan petani seolah dibiarkan berjalan sendiri tanpa bimbingan dan perhatian . Sehingga persoalan dan kesulitan yang dialami kalangan petani seakan tidak pernah ada jalan keluarnya. Akibatnya kehidupan petanipun makin terpuruk. Banyak yang dulunya adalah  petani yang memiliki lahan menjadi buruh tani yang menggantungkan hidupnya dari upah menggarap dan memelihara kebun atau sawah.

‘Saya tidak akan muluk-muluk. Namun sektor pertanian ini harus mendapat perhatian utama. Apalagi mayoritas masyarakat Pagaralam adalah petani. Jika pertaniannya maju, otomatis masyarakat Pagaralam sejahtera,’’ tegas Gunawan yang disebut-sebut calon kuat Walikota Pagaralam periode 2018-2023 ini.

Persoalan pertanian ini, kata Gunawan, harus diselesaikan secara komprhensif atau menyeluruh, dari hulu sampai hilirnya. Hulunya antara lain peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, ketersediaan pupuk tepat waktu dan bibit yang baik  serta bantuan permodalan melalui koperasi kelompok-kelompok tani (poktan) yang mendapatkan pendampingan.

“Selain itu, penyuluh-penyuluh pertanian harus diperbanyak dan  diaktifkan kembali. Selama ini jumlah penyuluh pertanian sangat sedikit dan kurang aktif, sehingga petani dibiarkan tanpa bimbingan teknis,’’ papar peraih gelar master dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Di hilirnya, kata Gunawan, pemerintah harus hadir membantu petani untuk mengakses pasar. Sehingga hasil-hasil pertanian terjamin pemasarannya dengan harga yang menguntungkan di tingkat petani. Selain itu, pemerintah juga membimbing petani dalam meningkatkan kualitas produksi sehingga harga jual di tingkat petani mengalami peningkatan.

“Yang terjadi selama ini adalah sangat jauh perbedaan harga antara harga di tingkat petani dengan pedagang pengumpul  dan pasar. Apalagi harga di supermarket dan mal di kota-kota besar.  Misalnya harga wortel atau cabe di tingkat petani hanya Rp 5.000 /kg, padahal harga di supermarket mencapai rp 25.000 sampai 30.000/kg.. Begitupun harga kopi. Semestinya harga kopi di Pagaralam jangan terlalu jauh berbeda dengan harga kopi di Lampung dan Jakarta. Kuncinya kualitasnya harus diperbaiki,’’ papar Gunawan.

Selain itu, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur pertanian yang baik. Misalnya irigasi teknis yang baik untuk menjga ketersediaan air, memperbanyak terminal-terminal agribisnis dan bahkan menyiapkan cold storage dan gudang penyimpanan untuk menampung hasil-hasil pertanian sebelum dipasarkan ke pasar umum.

Problema petani sayuran dan solusinya

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan petani, Gunawan menyoroti masalah menahun yang dialami petani sayur-mayur  di Pagaralam, yaitu masalah ketidakpastian harga. Dimana sering terjadi harga anjlok di saat musim panen tiba. Menurut pengamatan Gunawan, problem petani sayur tersebut setidaknya dipengaruhi oleh  4 hal, yaitu kelebihan pasokan d musim hujan, waktu panen yang bersamaan, sifat sayur yang mudah busuk (hitungan hari) dan pasar lokal yang masih terbatas.

“Permasalahan yang dialami petani sayur sudah lama berlangsung dan seolah tidak ada jalan keluarnya. Untuk itulah, pemerintah harus hadir. Pemerntah mempunyai tanggung jawab dan bertugas mencari solusinya. Jangan dibiarkan petani sendiri untuk menyelesaikannya,” tegas Gunawan.

Gunawan menjelaskan, dirinya telah memiliki konsep untuk mengatasi problema petani sayuran tersebut. Misalnya untuk mengatasi pasokan yang berlebihan di musim panen, maka diperlukan pengaturan pola musim tanam yang harus disepakati. “Disinilah peran PPL untuk memberikan bimbingan kepada petani. Sehingga bisa diatur pasokan agar tidak terjadi pasokan berlebih yang menyebaban harga anjlok,’’jelasnya..

Sementara untuk mengatasi daya tahan sayur mayur, kata Gunawan, harus disediakan cold storage (pendingin ruangan ) baik di terminal-terminal agribisnis yang ada, maupun di mobil/truk pengangkut. Sehingga sayuran tetap segar dan harganya tidak jatuh.

“Sebenarnya cara seperti ini sudah banyak dilakukan di sejumlah daerah, terutama sentra sayuran di luar negeri,” ujar Gunawan yang sehari-harinya juga menekuni bidang pertanian ini.

Untuk mengatasi masalah pasar yang masih terbatas, menurut Gunawan, pemerintah harus memiliki inisiatif dan aktif  membantu petani memperluas pasar. Selama ini, sayuran asal Pagaralam baru terbatas menembus pasar lokal Sumsel. Memang ada yang sudah menembus Pulau Jawa namun jumlahnya sangat sedikit lantaran jarak tempuh yang terlalu jauh menyebabkan penurunan kualitas sayuran yang akan dijual.

“Karena itulah cold storage baik di terminal-terminal agribisnis maupun di mobil angkutan harus menjadi sesuaitu yang sangat penting untuk disediakan,” ujarnya.

Sementara itu, tambah Gunawan, untuk jangka panjang adalah bagaimana membidik pasar ekspor ke luar negeri baik melalui pelabuhan regional Sumsel, maupun melalui angkutan cargo via Bandara Atung Bungsu yang saat ini baru melayani angkutan penumpang. “Untuk jangka panjang sudah harus dipikirkan bagaimana sayuran asal Pagaralam yang berkualitas untuk menembus pasar luar negeri yang tentunya sangat terbuka,” paparnya.

Gunawan mengaku amat kagum terhadap potensi pertanian dan perikanan di Kota Pagaralam. Terutama di dataran tinggi Kerinjing, Kecamatan Dempo Utara yang kini menjadi sentra agribisnis. Kawasan Kerinjing yang terletak dibawah kaki Gunung Dempo berbatasan dengan Kecamatan Pasmah Ulu Manna Ilir (PUMI) Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat tersebut juga sangat potensial untuk dijadikan kawasan agrowisata.

“Kawasan Kerinjing bisa dijadikan kawasan agrowisata layaknya kawasan Puncak di Jawa Barat,” ujarnya.

Kecintaan Gunawan terhadap pertanian dia buktikan dengan dengan perbuatan. Di sela-sela kesibukaanya sebagai penanggungjawab sejumlah proyek infrastruktur jalan dan jembatan di Palembang, Gunawan masih rutin mengembangkan perkebunan sawit dan budidaya buah naga di kawasan Banyuasin. Di Pagaralam dan Lahat, Gunawan juga mengembangkan perkebunan kopi dan sayur mayur. Dia punya obsesi mengembangkan budidaya apel di Pagaralam.

“Malang sangat terkenal dengan budidaya apelnya yang sukses. Saya yakin di Pagaralam juga bisa mengembangkan budidaya apel. Mengingat ada kemiripan geografis antara Malang dan Pagaralam,’’ ujarnya.

 

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.