Duka Keluarga Miskin Kotaku

PAGARALAM ONLINE – Miskin dan menyedihkan mungkin 2 (dua) kata itulah yang dapat menggambarkan kehidupan keluarga bapak Suherlan (50) dan ibu Naina (47) yang kini terpaksa harus tinggal disebuah gubuk bambu dikawasan dusun Belumai Kecamatan Pagaralam Utara.

Bagaimana tidak,keluarga ini harus tinggal disebuah tempat yang tak pantas disebut rumah lantaran ketidak tersediaanya perlengkapan layaknya rumah tinggal.

Memang selama ini keluarga ini tinggal dikebun kopi milik salah satu keluarganya dengan sistim bagi hasil atau dalam bahasa Pagaralam disebut “Paruan”.

Keterbatasan ekonomilah yang membuat keluarga ini harus tabah menjalani hidup bersama 3 anaknya yang masih usia belasan.

Kondisi ini pula lah yang membuat Nainah istri Suherlan sempat tak mendapat perawatan medis layak atas penyakit Diabetes yang selama 4 bulan di deritanya yang tentu saja membuat kondisi tubuhnya jadi kurus kering disebabkan penyakit ini ditambah asupan gizi maupun obat-obatan yang bisa dikatakan tidak ada sama sekali karena kondisi ekonominya miskin.

Beruntung masih ada sebagian warga kota Pagaralam yang terpanggil hatinya untuk membantu kesulitan keluarga ini dengan cara menggalang dana demi mengobati penyakit ibu Nainah dan juga untuk biaya hidup keluarga ini hingga akhirnya ibu Nainah bisa mendapat perawatan medis rumah sakit melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperolehnya setelah di urus oleh beberapa pihak.

Namun rupanya,kondisi kemiskinan maupun dera penyakit ibu Nainah ternyata bukan itu saja yang menjadi tanggungan bapak Suherlan.

Lebih dalam ternyata 2 anaknya juga menderita kelainan dimana anak perempuanya yang berumur kurang lebih 11 tahun dan anak bungsunya yang berumur 9 tahun pun mengalami gangguan fisik dan kesehatan terlihat dari kondisi salah satu tangan anak perempuannya yang tidak sempurna dan kondisi anak laki-laki bungsunya diduga mengalami kelainan jantung dan sering tiba-tiba pingsan tanpa penyebab yang jelas.

Tragis mungkin kata itu pula lah yang bisa melukiskan kehidupan keluarga ini.Di dera himpitan ekonomi,diperparah dengan kondisi kesehatan anggota keluarga yang semakin membuat miris siapa pun yang mengetahuinya.

Sekali lagi beruntung masih ada warga yang sebelumnya tidak saling mengenal maupun mengetahui kondisi keluarga ini lalu spontanitas bahu membahu memberikan bantuan.Berbagai komunitas telah turun tangan berbagai kesusahan juga kepedihan keluarga ini dan semoga banyak lagi komunitas-komunitas warga yang mampu mengurangi beban warga yang lain utamanya yang memerlukan bantuan serta uluran tangan tanpa harus menunggu peran pemerintah daerah yang dirasa terlalu mendahulukan kelengkapan administrasi ketimbang memberikan pertolongan darurat bagi warganya.

*Taufik Hidayat (Redpel Pagaralam Online)

 

 

 

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.