Dilema Sarjana Pagaralam,Ngangur Dikota Sendiri Atau Hijrah Kekota Lain?

 

*Pemerintah Daerah Ditantang Berinovasi Ciptakan Lapangan Kerja.

PAGARALAM ONLINE – Belum terbukanya lapangan pekerjaan dikota sendiri,seringkali jadi alasan para lulusan sarjana akhirnya memilih merantau kedaerah lain untuk mencari pekerjaan.

Dikota Pagaralam yang kini populasi atau jumlah perguruan tingginya telah mencapai 3 (tiga) lembaga pendidikan tinggi setingkat universitas dan 1 kampus cabang universitas tak kurang telah mencetak ratusan hingga ribuan sarjana baru setiap tahunnya dari berbagai disiplin ilmu.

Para sarjana baru ini kerap dihadapkan pada dilema usai kelulusannya dimana dengan predikat sarjana yang disandang harapannya akan lebih mudah mendapat pekerjaan yang dirasa makin kompetitip.

Kota Pagaralam yang sejak 18 tahun lalu berpredikat sebagai daerah otonom roda perekonomiannya masih sangat bergantung dan dikendalikan oleh para petani sebab tak kurang dari 70 persent lebih warganya memang berprofesi sebagai petani sisanya adalah pedagang,pegawai negeri dan usahawan.

Belum ada industri manufaktur,outomotif maupun industri pengelohanan lain yang berdiri dan berusaha dikota Pagaralam lantaran kendala-kendala seperti akses transportasi darat yang masih belum sempurna ditambah jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat industri maupun perdagangan yang hingga kini masih berpusat di ibukota provinsi.

Bagi para sarjana baru lulusan 3 perguruan tinggi dan 1 kampus cabang universitas ini,ketiadaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu atau keinginan di daerah sendiri mau tak mau memaksa mereka hijrah kekota besar semisal palembang atau kota lain di sekitar bahkan banyak yang akhirnya mengadu nasib di pulau jawa ataupun bagi yang ingin tetap di Pagaralam harus mencari atau mendapat pekerjaan seadanya seperti Tenaga Kerja Sukarela (TKS) di instansi pemerintah daerah atau berwiraswasta bagi yang mempunyai modal usaha.

Seperti yang lakoni Denti Septari yang baru saja merayakan kelulusannya disebuah perguruan tinggi lokal,dimana dengan gelar sarjana yang sandangnya saat ini dia harus tetap bertahan dengan pekerjaan yang dijalaninya sejak 2 tahun terakhir sebagai TKS di salah satu instansi Pemerintah kota Pagaralam itupun dengan upah seadanya lantaran ia bukan honorer yang bisa mendapatkan gaji tetap dari pemerintah daerah.

“Ada rencana mau merantau dan mencari pekerjaan di Lampung karena disana ada keluarga yang mungkin bisa mencarikan pekerjaan tetap yang lebih baik karena saat ini saya sudah sarjana,”ucapnya (08/09)

Palembang,Lampung,Jakarta memang banyak jadi tujuan utama para sarjana baru asal kota Pagaralam karena dikota-kota besar tersebut dirasa masih terbuka kesempatan bagi mereka untuk mendapat dan bersaing di dunia kerja dengan banyaknya industri baik jasa maupun manufaktur yang sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki.

Tantangannya adalah,mampukah pemerintah daerah kota Pagaralam saat ini dan kedepan menciptakan lapangan kerja bagi sarjana-sarjana lulusan lokal ini? Jawaban serta tanggung jawab ini tentunya berada di pundak para pemimpin daerah ini yang diharapkan mampu berinovasi dan melakukan terobosan-terobosan semisal mengundang investasi ke kawasan ini yang kemudian mampu menampung tenaga kerja utamanya para sarjana lulusan lokal atau berani berinvestasi besar dan jangkah panjang untuk membuka lapangan pekerjaan bagi warganya yang mempunyai srata pendidikan tinggi atau yang mempunyai keahlian dibidang tertentu.Bila tidak maka kota Pagaralam dipastikan tidak akan pernah jadi pengguna ilmu maupun skill warga sendiri dan para sarjana baru ini juga akan terus hijrah keluar daerah.

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.