Ini cerita Bandara Atung Bungsu yang tidak terungkap

 Taruhan Iris Telinga Yang Tak Terbayar

PAGARALAM—Bandar udara (Bandara) atau juga disebut lapangan terbang (lapter) Atung Bungsu yang  terletak di Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam ternyata menyimpan banyak cerita. Nama Atung Bungsu konon adalah nama nenek moyang msayarakat suku Besemah yang mendiami Kota Pagaralam dan sekitarnya. Selain diabadikan sebagai nama bandara, Atung Bungsu juga diabadikan sebagai nama kelurahan di Kota Pagaralam yang lahr pada tahun 2001 ini.

Namun dalam tulisan kali ini tidak akan mengupas tentang sejarah kesaktian Atung Bungsu yang melegenda di Tanah Besemah tersebut. Dalam episode kali ini akan menceritakan kisah-kisah menarik dibalik proyek pembangunan Bandara Atung Bungsu yang menelan dana sekitar Rp 300 miliar tersebut.

Ide awal pembangunan Bandara Atung Bungsu ide dicetuskan sekitar tahun 2005  oleh H. Djazuli Kuris yang kala itu menjabat Walikota Pagaralam.  Ketika dilantik menjadi Wallikota Pagaralam pertama tahun 2003, Djazuli Kuris menyusun visi misi yang dikenal dengan  nama  Pagaralam Kota Agribisnis dan Wisata Bernuansa Islami. Visi tersebut didasarkan atas dua potensi besar Kota Pagaralam, yaitu pertanian dan pariwisata. Sementara kata Islami bertujuan untuk tetap menjaga nilai-nilai Islami yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat Pagaralam yang hampir 98 persen beragama Islam.

Dalam menjalankan visi dan misi besar tersebut, Djazuli yang meiniti karir sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) golongan II ini membuat 4 program besar yang dikenal dengan 4 Pilar Kebijakan Djazuli Kuris, yaitu 1. Tersedianya infrastruktur yang layak untuk pelayanan kepada masyarakat. 2. Menyediakan pendidikann yang layak, maju, berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat. 3. Menyediakan layanan kesehatan yang layak, cepat, lengkap dan terjangkau oleh masyarakat dan 4. Mendorong dan memberikan ruang yang luas kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi meningkatkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Di awal pemerintahannya, Djazuli banyak menemukan hambatan untuk membangun dan mengembangkan daerahnya. Kala itu, sebagai daerah otonomi baru, Kota Pagaralam yang berpisah dari Kabupaten Lahat memiliki banyak keterbatasan. Selain jumlah APBD yang terbatas, Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola pemeritahan juga amat terbatas. Untuk posisi-posisi jabatan strategis harus diimpor dari luar Pagaralam, mengingat PNS yang ada belum memenuhi persyataran menduduk jabatan tersebut. Lantaran keterbatasan staf, ada pula jabatan tertentu terpaksa diisi oleh PNS yang tidak memiliki latar belakang yang sesuai dengan jabatannya.  Namun dengan segala keterbatasan itu, sebagai putra daerah Djazuli Kuris tidak pernah putus asa. Dia tetap bersemangat dan bekerja keras untuk mewujudkan obsesinya yang tertuang dalam 4 Pilar Kebijakan tersebut.

Sebagai putra atau lanang Besemah, Djazuli selalu menjunjung tinggi prinsip Janji Nunggu Kate Betaruh yang terpatri di lubuk hatinya paling dalam. Baginya, apa yang telah dituangkan dalam 4 pilar kebijakan tersebut adalah janjinya kepada msayarakat yang harus ditunaikan. Dia akan lakukan apapun resikonya. Baginya pemimpin itu adalah berani mengambil resiko.Apalagi resiko itu diambil untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpin.

“Tidak ada terobosan yang tidak beresiko. Kalau tidak mau ambil resiko ya tidak usah menjadi pemimpin. Atau menjadi pemimpin yang tidak mempunyai terobosan apa-apa. Pilihan ada pada diri kita masing-masing,” tegas putra pasangan H. Kuris Palo  dan Hj. Dasiah ini.

Selama 11 tahun memimpin Pagaralam ( 1 tahun Penjabat  ditambah 10 tahun walikota definitif), Djazuli memang dikenal memiliki banyak terobosan. Di masa pemerintahannya, pembangunan infrastruktur, terutama jalan dan jembatan gencar dilaksanakan. Terutama jalan-jalan baru untuk menghubungkan antar dusun dan antar kecamatan. Begitupun gedung-gedung sekolah dan RSUD Besemah dan sejumlah puskemas yang melayani rawat inap. Komplek perkantoran dan resort wisata  Gunung Gare yang keindahannya bisa dinikmati sampai saat ini merupakan salah satu masterpiece Djazuli Kuris.

Namun, bagi Djazuli Kuris, diantara masterpiece  atau karya besar yang paling istimewa adalah Bandara Atung Bungsu. Mengapa demikian? Menurut Djazuli, sejak awal rencana pembangunan Bandara Atung Bungsu tersebut sudah banyak ditentang oleh sejumlah tokoh msayarakat di Pagaralam maupun di luar Pagaralam. Bahkan ada banyak orang yang mencemooh ide Djazuli untuk membangun lapangan terbang tersebut.

“Udelah kudai nak mbuat lapangan terbang di Pagaralam. Jangan cicak hibat .Dimane duite? Udemtu sape jeme Pagaralam kah naik kapal terbang tu,,’’ begitulah kritik bernada cemoohan yang sering didengar Djazuli kala itu.

Namun cemoohan demi cemoohan tersebut tidak melemahkan semangat dan tekad Djazuli. Justru sebaliknya cemoohan tersebut seolah menjadi cambuk baginya untuk mewujudkan impian besarnya membangun sebuah lapangan terbang di tanah kelahirannya itu. Djazuli terus berpikir, memutar otak dan mengajak diskusi para stafnya untuk memulai pembangunan lapter yang dianggapnya sangat strategis untuk mempercepat pembangunan Kota Pagaralam.

“Potensi pertanian dan pariwisata Pagaralam luar biasa. Namun letaknya tidak begitu menguntungkan karena jauh dari ibukota provinsi dan ibukota negara. Saya banyak mendengar keluhan wisatawan dan investor yang enggan datang ke Pagaralam karena jaraknya jauh dan hanya bisa dicapai melalui jalan darat. Oleh karena itulah salah satu solusinya harus dibangun sebuah bandara di Pagaralam, sehingga jarak tempuh bisa lebih singkat. Pagaralam akan makin terbuka,,” papar Djazuli.

Pembangunan Bandara Atung Bungsu melalui masa-masa sulit. Selain  banyak mendapat cemooh dari banyak orang, proses persetujuan oleh pemerintah pusat tidaklah mudah.  Menurut Djazuli, lebih dari 10 kali dirinya dan staf mendatangi dan menghadap Menteri Perhubungan dan stafnya untuk meyakinkan sang menteri akan pentingnya dibangun sebuah bandara di Kota Pagaralam. Awalnya, pejabat Departemen Perhubungan tidak begitu menanggapi usulan Pemkot Pagaralam tersebut. Namun karena getolnya Djazuli datang dan memberikan keyakinan disertai kajian-kajian sosial ekonomi yang komprehensif, akhirnya pihak Departemen Perhubungan luruh juga. Singkat kata, mulailah dilakukan survey bersama ke lokasi yang direncanakan untuk pembangunan lapter Atung Bungsu.

Melihat lampu hijau dan dukungan pemerintah pusat tersebut, Djazuli makin bersemangat dan tambah yakin bahwa obsesinya itu akan menjadi kenyataan.Apalagi hasil survey  dan kajian pemerintah pusat menyimpulkan bahwa bandara layak dibangun di Pagaralam. Namun kening Djazuli mengkerut ketika dalam perencanaanya pembangunan lapter tersebut membutuhkan dana yang sangat besar, mencapai Rp 300 miliar lebih. Anggaran sebesar itu tidak mungkin diambil dari APBD Kota Pagaralam yang kala itu baru mencapai sekitar Rp 500 miliar. Pemerintah pusatpun menyatakan tidak mungkin membiayai seluruhnya.

Dalam berbagai pidato di hadapan masyarakat Pagaralam, Djazuli menyampaikan adanya persetujuan pemerintah pusat untuk membangun bandara di Pagaralam. Djazuli juga mengungkapkan besarnya biaya membangun lapter yang mencapai ratusan miliar rupiah tersebut,  Terjadi pro kontra di tengah-tengah masyarakat. Banyak yang mendukung, namun tidak sedikit yang menentang dengan sejumlah alasan yang logis.  Namun, Djazuli tak bergeming. Baginya, sekali layar terkembang pantang surut ke belakang.

Setelah berembuk dengan DPRD kota Pagaralam, maka diputuskan bahwa pembangunan lapter akan dilakukan secara bertahap menggunakan dana APBD dan APBN. Pembangunan  dimulai pada tahun 2007. Awalnya pembangunan berjalan terseok-seok karena berbagai faktor. Masalahpun berdatangan, terutama masalah anggaran, dimana kala itu belum ada kepastian bantuan dana dari pemerintah pusat .

Terseok-seoknya pembangunan bandara ini kemudian banyak menuai protes dan cemoohan masyarakat kala itu. Banyak pihak tidak yakin bahwa  lapter tersebut akan selesai dibangun. Bahkan ada beberapa tokoh masyarakat, tokoh LSM di Pagaralam yang sesumbar dan menantang Djazuli Kuris bertaruh iris telinga jika pembangunan lapter bisa diselesaikan.

“Bila mengingat kenangan itu, saya sedih bercampur marah. Ada beberapa tokoh masyarakat dan tokoh LSM yang sesumbar dan menantang saya untuk taruhan iris kuping atau iris telinga jika pembangunan lapter di Pagaralam bisa diselesaikan.  Saya  sangat ingat sesumbar itu,’’ kata Djazuli menirukan sesumbar tokoh msayarakat tersebut.

Sayangnya, Djazuli enggan menyebut secara jelas siapa tokoh msayarakat dan tokoh LSM yang menantangnya bertaruh iris telinga tersebut. “ Masyarakat Pagaralam pasti tahu siapa orang yang sesumbar itu,” ujar Djazuli sambil tersenyum.

Bagi Djazuli, cemoohn, kritikan dan sesumbar tersebut justru dianggap vitamin untuk menambah tenaga dan memompa semangatnya. Meskipun sempat terseok-seok di awal, namun berkat kegigihannya dan dukungan DPRD Pagaralam dan segenap masyarakat serta pertolongan Allah SWT, akhirnya pembangunan lapter dapat diselesaikan.  Pada 27 Maret 2014 lalu, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono meresmikan bandara Atung Bungsu bersama dengan lima proyek lainnya. Bandara Atung Bungsu yang pembangunannya bersumber dari APBN sebesar Rp108,5 miliar dan APBD sebesar Rp217,9 miliar itu kini sudah beroperasi dan dapat dinikmti masyarakat Pagaralam.

Kini secara reguler Bandara Atung Bungsu melayani penerbangan Pagaralam – Palembang (Bandara SMB II) dan Pagaralam – Jakarta via Bandara  Halim Perdana Kusumah. Penerbangan rutin 4 kali dalam seminggu. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya  jika Pagaralam – Palembang  hanya ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit dan Pagaralam – Jakarta hanya ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit.

“Alhamdulillah kini Bandara Atung Bungsu terus berkembang dan sudah rutin beroperasi melayani penerbangan ke beberapa daerah.  Namun sejak beroperasi 3 tahun lalu, sampai saat ini saya belum mendengar ada  orang yang mengiris cupingnya sendiri.  Mungkin mereka lupa atau pura-pura lupa,’’ sindir Djazuli.

(Tulisan ini disarikan dari sejumlah wawancara dengan Djazuli Kuris )

 

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.