Buk Ida Menari Kebagh, Kapolres Ngiroh Kawe

Semarak Festival Dusun Pelang Kenidai 2017

 

PAGARALAM ONLINE– Dusun Pelang Kenidai, Kelurahan Kecamatan Dempo Tengah, yang biasanya tenang, Sabtu pagi 30  Desember 2017, diramaikan oleh kehadiran warga yang datang dari lima penjuru Kota Pagaralam. Tampaknya banyak pula yang datang dari luar Pagaralam, bahkan dua turis asing yang mengaku datang dari Belgia dan Spayol.

Festival Pelang Kenidai, yang berupa pameran karya seni dan budaya tradional masyarakat Besemah mencapai puncak kemeriahannya. Pada saat tari Kebagh dipertunjukkan oleh enam orang gadis, Walikota Pagaralam, Hj Ida Fitriati, tampaknya ikut larut dalam suasana kemeriahan. Hj Ida Fitriati tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, minta selendang, dan ikut menari, menirukan gerakan gemulai para gadis menari. Tetabuhan berupa gendang, kenong dan gong terdengar makin bersemangat dan dinamis. Para penonton bersorak gembira.

Tak hanya ikut menari Kebagh, dalam kesempatan itu Buk Ida mengajak Kapolres Pagaralam, AKBP Dwi Hartono SIK dan memperagakan cara mengiroh alias  memasak biji kopi di atas kuali dan kemudian menutuk atau menumbuknya di dalam lesung. Aksi spontan Buk Ida dan Kapolres ini mendapat sambutan tepuk tangan ratusan warga yang menyaksikannya.

Festival Pelang Kenidai diserselenggarakan oleh komunitas anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam Besemah Heritage dan Supel (Sukajadi – Pelang Kenidai). Pada Festival Pelang Kenidai ini dipamerkan berbagai karya seni masyarakat, seperti seni kriya akar bambu, seni cukilan kayu dan kerajinan tangan lainnya. Dipertunjukan pula berbagai peralatan mengolah kopi tradisional seperti tungku, wajan, lesung, dan lain-lain termasuk atraksi cara menggunakannya. Pada festival ini dipamerkan pula pelbagai kuliner tradisional masyarakat Besemah, lengkap dengan demontrasi cara memasaknya.

Yang unik, peserta pameran menggunakan rumah mereka masing-masing sebagai stan pameran. Masyarakat Pelang Kenidai memang sedikit agak berbeda dibandinglkan warga Kota Pagaralam pada umumnya. Selain sebagai petani, mereka juga rata-rata pandai membuat karya seni, seperti kriya ukiran dan topeng dari bahan akar bambu.

Chozali Badillah, seorang tokoh masyarakat dari Jurai Tue Semidang Suku, mengaku bangga sekaligus terharu melihat Pemkot Pagaralam dibawah Hj Ida Fitriati begitu menaruh perhatian pada masyarakatnya. “Sebelumnya, acara-acara seperti ini tidak pernah dilakukan. Kami atas nama masyarakat Pelang Kenidai, keturunan Puyang Serunting Sakti, mengucapkan banyak terima kasih,” kata Chozali Badillah.

Walikota Pagaralam, Hj Ida Fitriati, merasa gembira melihat di antara warganya ada yang memiliki ketrampilan membuat karya seni. Ida Fitriati yang sedang bersemangat mengupayakan Pagaralam menjadi kota tujuan pariwisata, merasa yakin apa yang dilakukan masyarakat Pelang Kenidai ini akan sangat menunjang usahanya tersebut.

“Teruslah berkarya, keterampilan seperti ini merupakan anugerah Allah SWT yang harus disyukuri. Ke depan, Pemerintah Kota bukan hanya akan membantu mengembangkan bakat para seniman di Pelang Kenidai, melainkan juga akan membantu memasarkannya. Benda-benda seni itu boleh dipasarkan melalui Bandara Atung Bungsu atau di gerai sovenir Hotel Gunung Gare. Pemkot akan memberikan secara gratis dua buah kios di Pasar Nendagung, khusus untuk menjual benda-benda seni ini,” kata Ida Fitriati yang disambut antusias massa.

Masih dalam rangkaian festival, digelar pula acara diskusi dan sharing pengalaman. Acara dipandu oleh Hendhy Nansha SN MSn MH, atau lebih dikenal sebagai Dede Edun, seorang praktisi seni kriya serta dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saat diskusi berlangsung Dede Edun didampingi dr Ahmad Tagar Riagun SpOG dan Ilham Bijak Pulon, yang tampaknya sangat tertarik pada bakat yang dimiliki masyarakat Pelang Kenidai. Peserta diskusi tentu saja para seniman Pelang Kenidai itu sendiri. Dede Edun yang ternyata asli jeme Besemah ini pada dasarnya tertarik mengetahui di Pagaralam ini tersimpan bakat-bakat terpendam yang karyanya ternyata tidak kalah bagus dibanding seni kriya di tempat lain. Akan tetapi, menurut Dede Edun, ketrampilan ini harus terus digali dan dikembangkan, disesuai kan dengan standar nasional. Cara pemasarannya pun harus disesuikan dengan tuntutan zaman, misalnya melalui media sosial seperti Facebook, Instagram dan portal jual-beli lainnya.

Dede berjanji ke depan ia akan membuat acara yang sama, khusus membahas bagaimana masyarakat Pelang Kenidai menjual karya-karya mereka melalui media sosial.

Sehari sebelumnya, masih dalam rangkaian Festival Pelang Kenidai, dilakukan acara ziarah ke makam Puyang Serunting Sakti, yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Pelang Kenidai dan masyarakat Besemah secara umum.

Related posts

Leave a Comment