Aktivis Pagaralam Teriak Save Cantingi

PAGARALAM—Aksi “pencurian” tanaman Cantingi (Vaccinum varingiaufolium) atau dikenal dengan sebutan lokal Pagaralam kayu panjang umur masih terus berlangsung. Ironisnya, aksi tidak terpuji tersebut justru dilakukan oleh para pendaki Gunung Dempo . Padahal semestinya para pendaki sejati harus bertanggung jawab untuk melindungi dan melestarikan vegetasi endemik yang hanya tumbuh di puncak gunung tersebut
Joni Arius, aktivis lingkungan yang tergabung dalam Forum Pecinta Alam Besemah mengungkapkan, sampai saat ini, aksi “pencurian” tanaman cantingi tersebut masih terus berlangsung dan sulit untuk dihentikan. “Kami tidak kuasa melarangnya. Yang kami lakukan hanyalah sebatas imbauan,’’ tegas Joni kepada Pagaralam Online, Jumat (7/1).
Joni mengaku prihatin dengan masih maraknya aksi pengambilan tanaman kayu panjang umur tersebut. Apalagi dilakukan oleh para pendaki yang menaiki puncak Gunung Dempo. “Terus terang kami sangat kesal. Tapi kami tidak bisa bertindak seperti menangkap pelaku, karena itu bukan wewenang kami,’’ ujarnya prihatin.
Menurut Joni, para aktivis lingkungan di Pagaralam sudah menyampaikan keprihatinan soal masa depan cantingi ini kepada pejabat Pemkot Pagaralam. Namun, sejauh ini belum ada peraturan yang efektif untuk memproteksi dan melarang aksi “pencurian” cantingi yang makin lama makin sedikit tumbuh di puncak Gunung Dempo tersebut.
Menurut Joni, untuk melakukan pencegahan, saat ini para aktivis lingkungan di Pagaralam terus mengkampanyekan Save Cantingi yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat Pagaralam, terutama para pendaki Gunung Dempo untuk aktiv melindungi dan melestarikan tanaman kayu panjang umur tersebut. Cara termudah adalah dengan tidak mengambilnya dengan tujuan hanya sekedar koleksi.
“Banyak juga teman aktivis yang sudah mencoba membudidayakan tanaman cantingi ,’’ ujarnya.
Walikota Pagaralam, Hj. Ida Fitriati yang dihubungi via whatsup menjelaskan bahwa sebenarnya masalah kehutanan tersebut adalah tanggung jawab pihak Provinsi Sumsel. Namun Pemkot pagaralam pernah mengeluarkan keputusan bahwa flora dan fauna yang ada di hutan, termasuk Gunung Dempo diwilayah Pagaralam dilarang mengambilnya.

PENDAKI SEMESTINYA LINDUNGI CANTINGI
Tahukah Anda dengan Pohon Cantigi? Ironisnya banyak pendaki gunung yang tidak tahu dengan pohon cantigi. Situs Jelajah Nusantara menyebutkan, bahwa pohon cantigi adalah pohon yang hanya tumbuh di puncak gunung. Pohon cantigi memiliki daun berwarna kemerahan dan berbuah warna hitam. Pohon ini memiliki akar yang sangat kuat untuk berpegangan ketika mendaki dan bisa dibuat berlindung ketika terjadi badai di puncak gunung. Pohon ini juga bisa ditemukan di hampir setiap gunung di Indonesia. Cantigi merupakan tumbuhan yang tahan dengan asap belerang dan tanah kawah beracun. Dengan begitu banyak manfaatnya, namun Cantigi masih kalah poppuler dibandingkan dengan Bunga Edelweiss yang dipuja dan menjadi legenda bunga abadi di puncak gunung oleh para pendaki.

Pohon Cantigi atau yang mempunyai nama latin Vaccinium Varingiaufolium memiliki beberapa julukan antara lain, seperti manis rejo (jawa), cantigi (sunda), delima montak (kaltim). Pohon yang cantik ini biasanya hidup atau mudah terlihat di vegetasi menjelang puncak atau di puncak gunung, sama dengan wilayah tumbuhnya Edelweiss.

Pohon Cantigi banyak memberikan bantuan terhadap pendaki, akarnya yang kuat mengcengkeram tanah dan tebing sering menjadi tumpuan atau pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung. Pohon ini pulalah yang melindungi pendaki dari terjangan badai dan juga menyediakan lantai nyaman untuk bivak. Pohon ini juga menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan bagi pendaki yang tersesat. Sehebat apapun badai cantigi tidak akan tumbang. Pohon ini kuat menghadapi cuaca yang ekstrim dingin dan menepis panas yang menyengat dan lekang.

Dengan begitu banyak manfaat dan kegunaan yang diberikan, marilah kita para pendaki ikut melestarikan. Mari kita mulai palingkan wajah dan harapan ke Cantigi, sang Pelindung para pendaki. Rawat dan biarkan dia hidup di rumahnya. Bunga yang tidak hanya indah di sela tebing terjal dan tingginya gunung, dia juga melindungi pendaki dari terpaan badai. Lalu pantaskah kita merusaknya?

Kasihanilah cantigi sejak dini dan mari kita bersama-sama menjaganya.

Related posts

Leave a Comment